Anak-Anak Gaza Kesulitan Belajar Selama Pandemi Covid-19

26
Belajar
Anak-AnakGaza sedang Belajar Online Menggunakan Whatsapp. (Foto: aljazeera.com)

Madania.co.id, Gaza–Dengan tingkat kemiskinan yang tinggi, pemadaman listrik, dan layanan internet yang tidak stabil, pembelajaran online anak-anak telah menjadi mimpi buruk di tengah blokade Israel.

Blokade Israel selama 13 tahun melumpuhkan Gaza, sehingga mengakibatkan kekurangan listrik, dan gangguan internet secara teratur, ditambah tantangan pendidikan dalam masa pandemi ini.

Dilansir Al Jazeera, 5 Maret lalu kepresidenan Palestina membanting stir darurat dengan memberlakukan lockdown termasuk menutup semua pendidikan, sebagai bagian dari tindakan pencegahan penyebaran virus covid-19.

Pada awal September, pemerintahan Gaza memutuskan untuk membuka kembali sekolah-sekolah tersebut. Namun angka positif covid-19 melonjak tinggi hingga menyebabkan penghentian lagi.

Keadaan ini membuat keluarga Walaa Jamal (33) dari kamp pengungsi Shati berjuang untuk menutupi kesenjangan pendidikan bagi keempat anaknya.

“Belajar jarak jauh melelahkan, karena layar ponsel terlalu kecil, tetapi tidak ada pilihan lain. Anak-anak tidak punya buku sedangkan mereka harus belajar, kalau tidak mereka akan tidak berpendidikan,” kata Walaa.

“Ketika anak-anak saya mendapat PR dari guru mereka di WhatsApp, mereka akan menuliskannya di kertas, lalu saya foto hasil jawaban mereka, kemudian saya kirim ke guru melalui WhatsApp untuk mendapatkan evaluasi dan tanggapan mereka,” tambahnya.

Keterbatasan teknologi sangat berpengaruh dalam sistem belajar online, menurut Pusat Statistik Biro Palestina, 29% keluarga di Gaza hanya memiliki satu laptop di rumah mereka. Juga koneksi internet yang buruk merupakan kendala tambahan.

“Saya memiliki ponsel ini empat tahun lalu dan sekarang pemrosesannya sangat lambat, ditambah delapan jam pemadaman listrik, kami tidak dapat mengisi daya penuh untuk pagi hari,” kata Walaa.

Di Bawah Tekanan Berat

Um Mohammed Abu Amra, 27, dari daerah Deir Al-Balah di Jalur Gaza, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa dia perlu terhubung ke internet sehingga kelima anaknya dapat melanjutkan sekolah, tetapi layanan internet sangat buruk di daerahnya.

Baca Juga:  Ini Dia Jadwal SIM Keliling Online Kota Bandung Seminggu ke Depan

Israel masih melarang layanan data 3G di Gaza, yang akan membuat hidup lebih mudah bagi siswa dan orang tua mereka untuk mengikuti pelajaran dan mengirimkan PR kepada guru.

“Sekolah dimulai di rumah kami pagi-pagi sekali, ini adalah beban berat yang ditambahkan di pundak saya. Saya perlu memasak, mendidik anak-anak, dan merawat anak saya yang berusia dua bulan,” keluh Um Mohamed.

Menurut Kementerian Kesehatan, Gaza telah mencatat 4.440 kasus Covid-19, termasuk 26 kematian, sejak Maret. Kasus aktif saat ini mencapai di 1.762.

Beberapa tempat di Gaza ditutup dan dijaga oleh petugas polisi karena wabah virus corona.

“Pembelajaran jarak jauh sangat penting untuk memberikan tingkat pendidikan minimum kepada siswa selama lockdown, dan kementerian pendidikan masih membahas kembalinya anak-anak ke sekolah,” kata Salameh Maarouf, direktur kantor media pemerintah Gaza.

“Kementerian Pendidikan berada di bawah tekanan berat selama ini yang memaksanya untuk merekam banyak pelajaran di semua tingkat pendidikan.

Juga membuka ribuan kelas virtual melalui WhatsApp dan Gmail untuk menghubungkan guru dengan murid-muridnya,” kata Maarouf.

Siswa dapat menghadiri paruh waktu dengan jumlah siswa di kelas tidak melebihi 20, katanya. (dzk)


Ikuti Media Sosial dan Youtube Channel Kami:
Instagram:www.instagram.com/madaniacoid/
Twitter: twitter.com/madaniacoid/
Facebook: facebook.com/madaniacoid
Youtube: youtube.com/madaniacoid
Jangan lupa like, comment, share, dan subscribe

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here