Habitat Burung Blekok Terancam Bandung Teknopolis

1024

Madania.co.id, Bandung — Gencarnya pembangunan infrastuktur di Bandung Timur berdampak besar bukan hanya kepada masyarakat sekitar, namun juga terhadap habitat satwa.

Salah satunya habitat burung blekok atau kuntul di Kampung Kreatif Blekok Rancabayawak, Kelurahan Cisaranten Kidul, Kecamatan Gedebage, Kota Bandung, yang berdekatan dengan megaproyek Bandung Teknopolis.

Di Kampung Kreatif Blekok Rancabayawak, habitat burung bernama latin Ardeola speciosa berkembang, bersarang secara koloni dan membuat banyak sangkar atau tempat mereka bertelur di rumpun bambu dan selong.

Meski pepohonan yang dijadikan sarang burung tidak tergerus oleh pembangunan, namun blekok kehilangan tempat mencari makan.

Baca Juga:  Koordinasi dengan Polisi dan TNI, Ridwan Kamil Jamin Keamanan Selama Paskah

Sawah-sawah tempat mereka mencari makan sebentar lagi akan menjadi perumahan-perumahan mewah di Kawasan Bandung Teknopolis dan infrastuktur lainnya.

Alhasil, kawanan blekok tersebut harus mencari makan dengan jarak yang jauh seperti daerah Ciparay, Kabupaten Bandung.

Ketua RW 02 Kampung Rancabayawak, Ujang Safaat (42) mengungkapkan, kawanan blekok dan kuntul ini sudah menghuni Kampung Rancabayawak sejak tahun 1970-an.

Burung berbulu putih serta berkaki dan berparuh panjang mulai mencari makan ketika matahari terbit dan kembali lagi kesarang ketika matahari terbenam secara koloni.

Blekok memangsa jenis ikan, serangga air dan juga belalang. Blekok juga menjadi sahabat petani, karena membantu membasmi hama di sawah.

Selain itu mereka memliki fungsi ekosistem sebagai penyerbuk jenis-jenis tumbuhan.

Baca Juga:  Pemkot Bandung Raih Penghargaan Penyelenggara Pelayanan Kepemudaan Terbaik di Jawa Barat

Bukan hanya kehilangan makanan, dampak dari pembangunan membuat burung blekok stres akibat terganggu suara kebisingan alat berat pembangunan perumahan. Akibatnya, mereka gagal berreproduksi, selain itu getaran yang dihasilkan dari alat berat itu terkadang menyebabkan telur-telur mereka di sarang jatuh ke tanah dan pecah. Membuat populasi mereka akan berkurang setiap tahunnya.

Berdasarkan penelitian Universitas Padjajaran 2017, populasi burung blekok tersisa 2445 ekor dari 2700 ekor akibat penyusutan lahan persawahan dan pembangunan perumahan. Burung ini diprediksi akan terus berkurang tiap tahunnya.

Sebelumnya burung blekok dan kuntul sudah menjadi hewan yang dilindung, yang diatur dalam Perda Nomor 11 tahun 2005 tentang Penyelenggaraan Ketertiban, Kebersihan, dan Keindahan Kota Bandung.

Baca Juga:  Ridwan Kamil Luncurkan Desa Digital Parakan Binaan bank bjb di Karawang

Dilarang merusak tempat tinggal dan membunuh atau memperjualbelikan kedua jenis burung ini karena dapat terancam denda Rp 5 juta ditambah sanksi administrasi lainnya. Tetapi seiring waktu kedua burung tersebut tidak menjadi lagi burung yang dilindungi dengan diputuskannya Peraturan Menteri LHK Nomor 92 Tahun 2018, populasi mereka pun semakin terancam punah.

Ujang dan warga setempat berharap pemerintah bisa memperhatikan keberlangsungan habitat burung blekok dan kuntul dengan membuat kebijakan komprehensif untuk melindungi kawasan tersebut.

“Kalau memang bener dilindungi. Harusnya blekok menjadi kebanggaan dan ikon Kota Bandung dan menjadi modal Kota Bandung menjadi kawasan edukasi dan tempat wisata,” ungkapnya. (RAR)

 


Ikuti Media Sosial dan Youtube Channel Kami:
Instagram:www.instagram.com/madaniacoid/
Twitter: twitter.com/madaniacoid/
Facebook: facebook.com/madaniacoid
Youtube: youtube.com/madaniacoid
Jangan lupa like, comment, share, dan subscribe

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here