Ini Dia Syarat Muslim Menuju Keselamatan

293

Oleh Dr. Dudy Imanuddin Effendi, M.Ag

Iman menjadi syarat utama yang harus dimiliki oleh setiap muslim. Tanpa keimanan, segala sesuatunya hanya kosong dan tidak berarti. Selain meyakini rukun iman sebagai bukti, Allah SWT. juga menyebutkan di dalam Surat Al-Anfal ayat 2-3 tentang ciri-ciri orang beriman yang sesungguhnya.

Allah SWT berfirman:

Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. (QS Al Anfal: 2-3)

Berdasarkan pijakan surat dan ayat di atas, orang-orang beriman itu, mereka yang jika dinasehati dengan nama Allah, maka bergetarlah hati mereka, tunduk, dan patuh tanpa syarat. Orang-orang yang beriman dengan tingkat kepercayaan yang mutlak kepada Allah, jika disebutkan nama-Nya, maka bergetarlah getaran cinta dan takut, getaran harap dan pasrah yang ditujukan hanya kepada Allah.

Kepatuhan kepada Allah

Hentikanlah pikiran-pikiran yang dikacaukan oleh hawa nafsu untuk segera tunduk kepada Allah. Dalam sebuah keterangan, ciri ini bagian dari ciri iman pertama, yakni “yusallimu tasliiman li amrillah”. Artinya selalu membina keselamatan diri dengan selalu patuh menjalankan perintah-perintah Allah dalam setiap aktivitas kehidupannya.

Orang beriman itu, ketika dibacakan ayat-ayat Allah, apabila Alqur’an diperdengarkan di telinganya, maka bertambahlah iman mereka. Mari kita periksa hati kita masing-masing, saat disebut nama Allah, adakah getaran-getaran cinta, takut, harap, dan pasrah kepada-Nya? Ketika dibacakan ayat-ayat Allah apakah volume iman bertambah?

Bertawakal kepada Allah

Orang beriman itu, hanya kepada Allah mereka bertawakkal. Orang beriman itu kuat dan sandaran mereka hanya kepada Allah SWT., seperti tidak pernah membutuhkan lagi sandaran-sandaran selain Allah. Dalam sebuah keterangan ciri ini bagian dari ciri iman kedua, yakni “Tawakkal alallah”. Artinya, selalu berpegang teguh hanya kepada Allah.

Baca Juga:  Ini Dia Prototype Manusia Terbaik

Berserah diri dan kedua berpegang teguh merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Tidak dapat dikatakan tawakal kalau belum berserah diri secara ikhlas. Tidak dapat pula dikatakan tawakal kalau belum berpegang kepada-Nya, belum kokoh atau belum bulat pada tingkat haqqul yakin kepada kekuasaan-Nya yang tidak terbatas, keadilan-Nya, kebijaksanaan-Nya, kasih sayang-Nya untuk mengatur segala sesuatu dengan sesempurna-sempurnanya.

Tawfidh Ilallah

Orang-orang beriman itu memiliki satu kekuatan di dalam hatinya. Jika dia sudah merasakan keindahan nama Allah disebut di dalam hatinya, maka dia tidak pernah membutuhkan hiburan paling indah selain sebutan nama-Nya. Orang-orang beriman, jika ada ancaman yang diperdengarkan di telinganya, lalu dibacakan ke telinganya ayat-ayat Allah SWT., maka semua ancaman itu tiba-tiba menguap tanpa bekas seperti asap yang naik ke langit.

Orang beriman itu ketika diberi ancaman, tiba-tiba yang ada dalam jiwanya hanya Allah SWT., seperti yang dicontohkan para sahabat nabi dan orang-orang shalih.  Orang-orang beriman memiliki satu sandaran di dalam jiwanya, yaitu tawakkal, sehingga mereka tidak pernah membutuhkan sandaran lain selain Allah. Oleh karena seorang yang beriman sudah melakukan penyerahan diri secara totalitas hanya kepada Allah.

Dalam sebuah keterangan ciri ini bagian dari ciri iman ketiga, yakni “Tawfidh ilallah”. Dalam tafwidh, manusia yang beriman melihat dirinya tanpa kekuatan, dan hanya Allah yang memiliki pengaruh dalam semua urusan, sementara di dalam tawakal ia menjadikan Allah sebagai tempat bergantungnya dalam mencari kebajikan dan manfaat.

Ridha bil-Qadha

Orang-orang yang beriman sebagai wujud ridha kepada Allah, maka akan menjalankan segala titah Allah dan menjauhi larangannya. Ia ridha sebagai makhluk yang diciptakan Allah yang memiliki tujuan hidup hanya untuk beribadah dalam konteks pelbagai peran dan fungsi kehidupan.

Baca Juga:  Misi Kenabian, Tauhid, dan Krisis Kemanusiaan

Pada ayat di atas bukti keridhaan seorang yang beriman adalah mendirikan shalat dan gemar berinfak di jalan Allah SWT.  Dalam sebuah keterangan ciri ini bagian dari ciri iman keempat, yakni “ridha bil-qadha”.

Di antara bentuk ridha terhadap qadha’ Allah ialah berhubungan dengan kekasihnya melalui berbagai sebab yang bisa sampai kepada sang kekasih. Ia juga meninggalkan sebab-sebab yang bertentangan dengan apa yang diinginkan kekasihnya itu, demi ridhanya atas segala kehendak Allah, baik qahda dalam wujud iradah kauni maupun syar’iah.

Selanjutnya, karena telah memiliki empat ciri iman di atas, maka orang-orang yang beriman akan selalu bersabar dalam menghadapi segala ujian hidup dan kehidupan. Iniah ciri terakhir dari iman, yakni “ash-shabru ‘inda ash-shadmatil Ula.”  Allah begitu memuliakan praktik sabar kaum beriman, khususnya sabar pada kesempatan pertama kali mereka harus menentukan antara sabar atau putus asa.

Ash-shabru ‘inda shadmatil uula, sabar yang akan membawa kaum beriman sebagai kaum terpuji. Sabar yang hadir pada waktu yang tepat, sebagai wujud keikhlasan, maka meninggalkan kesabaran berarti meninggalkan ketaqwaan. Dengan sabar, bisa menumbuhkan harapan untuk tetap hidup dan bergerak optimis di saat diuji oleh musibah.

Selamat Dunia dan Akhirat

Bagi kaum beriman, kesabaran bisa tetap melangkah dalam melanjutkan amal-amal shalihnya, dan bukan frustasi, menanggalkan akidah, bahkan benci bertemu Allah SWT.  Justeru dengan kehidupan beserta dinamika ujiannya, kaum beriman belajar untuk terus optimis menata kehidupan dunia ke arah yang lebih baik dan benar.

Begitulah ciri iman, jika setiap manusia mampu menginternalisasinya maka ia akan bertemu dengan keselamatan dunia dan akhirat. Akhirnya, hanya do’a yang terungkap: ‘Ya Muqollibal Quluubi Tsabbit Qolbiy ‘Alaa Diinika’ (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu), Robbanaa Laa Tuzigh Quluubanaa Ba’da Idz Hadaitanaa wa Hab Lanaa Min-Ladunka Rohmatan, innaka Antal-Wahhaab (Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Dzat yang Maha Pemberi),  (karunia), Allaahumma Mushorrifal Quluub, Shorrif Quluubanaa ‘Alaa Tho’atika (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).” ***

Baca Juga:  Tetaplah Belajar Sabar

Ikuti Media Sosial dan Youtube Channel Kami:
Instagram:www.instagram.com/madaniacoid/
Twitter: twitter.com/madaniacoid/
Facebook: facebook.com/madaniacoid
Youtube: youtube.com/madaniacoid
Jangan lupa like, comment, share, dan subscribe

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here