“Langseng” Kian Terseret Peralatan Dapur Modern

354

Kini Tinggal 10 Pengrajin

Perajin menyelesaikan pembuatan langseng di Jalan paledang, Desa Cileunyi Kulon, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung, Sabtu (22/8/2020).

Selama bunyi trang trang trang … masih terdengar, berarti uang terus berputar. Begitu, kata para pengrajin langseng (dandang, Ind)di Kampung Cikalang Paledang, Desa Cileunyi Kulon, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung.

Kampung langseng merupakan julukan untuk Kampung Paledang, satu-satunya kampung di Kabupaten Bandung bahkan untuk lingkup Jawa Barat begitu melegenda.

Konon, pengrajin langseng di kawasan ini hanya memiliki satu  saingan,  di Rajapolah, Kabupaten Tasikmalaya.

Sejarah dinamakannya kampung langseng karena pada tahun 80-an ada salah satu warga Kampung Paledang yang membuat langseng dan meraih kesuksesan.

Baca Juga:  Enam Orang Diamankan Polisi Lantaran Membawa Busur dan Anak Panah Saat Menuju Jakarta

Hampir semua warga mengikuti jejak kesuksesan tersebut dengan menjadi pengrajin langseng. Namun, lain dulu lain sekarang, produksi langseng di Kampung Paledang terancam kemajuan zaman.

Seorang pengrajin, Asep (61) mengungkapkan,  sejak tahun 90-an warga setempat memilih untuk memproduksi langseng sebagai mata pencaharian. Jumlah pengrajin di kampung itu mencapai 50 orang.

Tapi kini hanya menyisakan 10 orang pengrajin. Satu per satu pengrajin memilih beralih profesi karena persaingan yang semakin ketat dengan maraknya alat memasak nasi modern.

Baca Juga:  Dinkes Kabupaten Bandung Tingkatkan Pengawasan Pesantren

Selain itu, menurut Asep  meroketnya harga bahan bak tembaga juga menjadi salah satu kendala yang dihadapi para pengrajin.

“Untuk menyiasati kondisi itu, saya sekarang memakai bahan baku alumunium kalvanik untuk pembuatan langseng yang tentu lebih murah dibanding dengan tembaga yang mencapai Rp 150 ribu per kilogram,” ujar pemilik pabrik MJ Grup tersebut.

Di sisi lain, permintaan pasar pun terus menyusut. Untuk menyiasati kondisi tersebut, Asep memakai trik jemput bola. Berbeda dengan kiat pemasaran produk lain yang kebanyakan didahului dengan pemesanan barang, trik jemput bola dilakukan dengan mendatangani konsumen secara langsung.

Baca Juga:  Pemerintah Sudah Salurkan Dana BLT Desa Rp18 Triliun

Salah satu pekerja bagian pemasaran, Yayan (40) mengatakan,  langseng dijual dengan harga mulai dari Rp 200 ribu hingga Rp 1,5 juta per set, tergantung ukuran langseng. Ukuran langseng beragam, ada yang 4 kg, 5 kg, hingga15 kg per set.

Kendati demikian, MJ Grup masih ingin tetap eksis di tengah keterbatasan. Produksi langsengnya dipasarkan bukan hanya di Bandung Raya, melainkan sudah ke berbagai daerah nusantara, mulai dari Sumatera, Kalimantan, hingga Nusa Tenggara.(rar)


Ikuti Media Sosial dan Youtube Channel Kami:
Instagram:www.instagram.com/madaniacoid/
Twitter: twitter.com/madaniacoid/
Facebook: facebook.com/madaniacoid
Youtube: youtube.com/madaniacoid
Jangan lupa like, comment, share, dan subscribe

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here