Menilik Kualitas Hidup Lansia dalam Peta Jalan SDGs

63
Kepala BPS Jawa Barat Dyah Anugerah Kuswardani (kanan) dan moderator Vida Alatas (kiri) dalam Webinar series 1 dalam rangkaian perayaan Hari Statistik Nasional 2020 serta kegiatan publisitas pemanfaatan data Sensus Penduduk 2020.

Madania.co.id, Bandung – Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat (Jabar) menyelenggarakan kegiatan Webinar series 1 dalam rangkaian perayaan Hari Statistik Nasional 2020 serta kegiatan publisitas pemanfaatan data Sensus Penduduk 2020.

Tema “Menilik Kualitas Hidup Lansia dalam Peta Jalan SDGs” diangkat dilatarbelakangi bahwa Indonesia termasuk Jawa Barat berada pada peta jalan Agenda Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals) 2030.

Deputi Bidang Kependudukan dan Ketenagakerjaan Bappenas, Pungky Sumadi menyampaikan, adanya kebutuhan mendesak kebijakan kelanjutusiaan, yang terdiri dari perbaikan kualitas dan perluasan layanan, perluasan ketahanan sosial ekonomi, ketersediaan data, respon kedaruratan,serta pengarusutamaan.

“Untuk hal ini, pemerintah telah melakukan penetapan Rancangan Peraturan Presiden tentang Strategi Nasional Kelanjutusiaan serta Sinergi Stranas Kelanjutusiaan dengan RPJMN 2020-2024, yang diintegrasikan dengan Rencana Kerja Pemerintah,” tambah Pungky, Senin (19/10/2020).

Sedangkan, Kepala BPS Provinsi Jawa Barat Dyah Anugrah Kuswardani memberikan gambaran kondisi terkini lansia di Jawa Barat. Jumlah lansia di Jawa Barat pada 2019 sebanyak 4,76 juta jiwa atau 9,71% total penduduk Jawa Barat.

“Rasio ketergantungan lansia terhadap penduduk usia produktif mencapai 14,85%. Komposisinya lebih banyak lansia perempuan dibandingkan laki-laki,” katanya.

Hal menariknya adalah jika dilihat menurut status perkawinan,  lansia perempuan lebih banyak tinggal sendiri (cerai hidup dan mati) dibandingkan lansia laki-laki.

Demikian halnya dengan status pendidikan, rata-rata lama sekolah lansia di Jawa Barat masih rendah yaitu sekitar 5,38 tahun (belum tamat SD).

Dari sisi kesehatan dan perlindungan sosial pun, lansia belum sepenuhnya memiliki jaminan kesehatan dan perlindungan sosial.

Semakin meningkatnya jumlah lansia baik di Indonesia maupun di Jawa Barat, tentunya akan berdampak baik pada berbagai aspek kehidupan, ekonomi maupun sosial.

“Berbagai situasi dan kondisi yang dihadapi lansia, tentunya sangat berpengaruh pada tingkat kesejahteraan serta banyaknya problematika yang dihadapi lansia,” tambahnya.

Baca Juga:  Badan Pusat Statistik Prediksi Kemiskinan di Jawa Barat

Selanjutnya, Peneliti Lembaga Demografi –Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Lilis Heri menjelaskan secara detil bagaimana kondisi tingkat kesejahteraan dan berbagai problema yang dihadapi lansia, serta dimana negara perlu hadir dengan adanya strategi nasional kelanjutusiaan.

Menurutnya, berbagai kebijakan yang dijalankan serta situasi yang dihadapi  lansia Indonesia, sebenarnya dalam peta jalan SDGs hingga 2030 nanti, posisi lansia menjadi cross cutting issue pada hampir semua tujuan.

“Lansia harus dikenal sebagai agen aktif dalam pembangunan, agar bisa mencapai pembangunan berkelanjutan yang transformatif dan inklusif,” tutupnya.

Webinar series 2 rencananya digelar pada 26 Oktober 2020 dengan mengusung tema “De Jure – De Facto, Untuk Siapa?”. (rar)


Ikuti Media Sosial dan Youtube Channel Kami:
Instagram:www.instagram.com/madaniacoid/
Twitter: twitter.com/madaniacoid/
Facebook: facebook.com/madaniacoid
Youtube: youtube.com/madaniacoid
Jangan lupa like, comment, share, dan subscribe

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here