Menjadi “Raja” bagi Hawa Nafsu Diri Sendiri

245

Oleh Dr. Dudy Imanuddin Effendi, M.Ag

Hakikat pemabuk bukanlah karena banyak mengonsumsi barang-barang memabukkan, seperti arak, ganja, kokain dan lainnya. Walaupun semua barang yang disebutkan memang bisa memabukkan dan pelakunya bisa disebut orang yang memiliki perilaku tidak sehat.

Dudy Imadudin

HAKIKAT pemabuk yang paling berbahaya dan bisa merusak segalanya adalah mereka yang “sakau” dan “over dosis” dalam mengomsumsi urusan duniawi secara berlebihan dan perilaku kejahiliyahan.  Juga membuatnya lupa terhadap kewajiban agama dan tuntutan etika sosial.

Konon orang yang mabuk, karena over atau sakau mencintai dunia dan perilaku kejahiliyahan, pada dirinya akan terlepas aktivitas untuk menyeru pada yang ma’ruf dan melarang setiap kemungkaran. Bahkan, perilakunya tidak terpelihara dari perintah- perintah  yang datang dari Allah SWT.

Baca Juga:  Syahrul Qur'an, Menghidupkan Gagasan Islam Berkedamaian atau Islam Perdamaian

Mereka yang over dan sakau akan tertutup kesadaran Ilahiyahnya. Dirinya betah menjadi pemabuk dan jadilah manusia fakir. Inilah yang diisyaratkan  dalam sebuah riwayat,  fakir karena mabuk dunia dan perilaku kejahiliyahan membuatnya lemah keyakinannya, tidur yang berkepanjangan (hilang kesadaran),  keras hati (sulit menerima kebenaran) dan malas (enggan mengamalkan kebenaran). Semua ini berujung pada sakit kronis ruhiyah.

Baca Juga:  Satgas Akan Segel 14 Hari Tempat Usaha yang Bandel

Menguasai, Bukan Dikuasai

Bisakah pemabuk itu sembuh tanpa “diopname” terlalu lama. Sangat bisa. Dalam sebuah riwayat disebutkan, agar sembuh dari mabuk yang dimaksud, maka ” jadilah raja” bagi hawa nafsu dirinya sendiri.

Saat hadir cinta pada hal yang bersifat duniawi, maka ia bisa menguasainya bukan dikuasai, saat hadir ketakutan dan kekhawatiran berlebihan pada hal-hal yang bersifat duniawi, maka ia bisa menguasainya bukan dikuasai, dan saat  hadir perasaan akan kehilangan sesuatu yang telah dimilikinya, maka ia bisa mengusainya bukan dikuasai.

Baca Juga:  Tawadhu: Bukan Egoisme Beragama

Jadi raja yang bisa menguasai dan mengendalikan rasa  cinta, takut, khawatir dan kehilangan atas hal-hal bersifat duniawi. Dan tidak dikendalikan oleh rasa-rasa tersebut.

Resep agar sehat ruhiyah dan jasmani itu sederhana. Simpanlah hal-hal duniawi di tangan, karena itulah tempatnya yang layak. Jangan simpan di hati, karena itu tempat bersemayamnya keyakinan kepada AllAh Maha Rahman dan Rahim. ***

Penulis, Ketua Jurusan Bimbingan dan Konseling Islam (BKI), Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Sunan Gunung Djati Bandung.


Ikuti Media Sosial dan Youtube Channel Kami:
Instagram:www.instagram.com/madaniacoid/
Twitter: twitter.com/madaniacoid/
Facebook: facebook.com/madaniacoid
Youtube: youtube.com/madaniacoid
Jangan lupa like, comment, share, dan subscribe

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here