Misi Kenabian, Tauhid, dan Krisis Kemanusiaan

259

Oleh Dr. Dudy Imanuddin Effendi, M.Ag

Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan (maksiat) manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS Ar Ruum: 41).

“Sungguh, Allah telah memberi karunia kepada orang-orang beriman ketika (Allah) mengutus seorang Rasul (Muhammad) di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab (Alquran), dan hikmah (sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Ali-Imran: 164)

Maka ketahuilah, bahwa tidak ada tuhan (yang patut disembah) selain Allah dan mohonlah ampunan atas dosamu dan atas (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat usaha dan tempat tinggalmu (Q.S. Muhammad: 19)

 Krisis Kemanusiaan

Betulkah sewaktu masa Rasulullah mengemban amanah misi kenabian terpisah dari lingkaran krisis kemanusiaan? Siapapun yang cerdas akan mengatakan tidak, walaupun krisis itu berbeda bobot nilainya dengan krisis yang terjadi zaman sekarang. Akan tetapi, secara substantif, akar dan efek-domino-nya memiliki kesamaan wajah dan bentuk.

Pertama, Nabi Muhammad SAW diberi amanah misi kenabian bukanlah di negara Romawi atau Persia yang sudah memiliki kemajuan peradaban secara material. Akan tetapi diturunkan di tengah-tengah kondisi masyarakat Arab jahiliyah yang begitu sangat ekstrim dan radikal. Ekstrim dan radikal dengan ditandai kuatnya pelbagai ketimpangan disparitas sosial, perbudakan, kebusukan moral dan kebobrokan beragama. Kaum-kaum dhua’afa diperlakukan seperti barang bergerak (bersifat mekanistik), bahkan diperlakukan seperti kambing dan barang dagangan yang bisa diperjualbelikan dan diperlakukan seenaknya hawa nafsunya oleh para psikopat Jahiliyah otoritarian.

Efek-domino prilaku tersebut, dalam catatan sejarah telah melahirkan penyakit-penyakit jiwa dan sosial diberbagai lapisan masyarakat. Tidak sedikit, dari mereka yang kehilangan kemurnian bathin—yang ujung-ujungnya menimbulkan prahara strees dan simptom-simptom kejiwaan—dan mengalami alienasi dari kebijakan sejati—yang ujung-ujungnya melahirkan petaka neurosis schizofrenia. Inilah bukti historis, fakta kegelapan moral, kebingungan eksistensi dan anarki sosial yang terjadi di jazirah Arab Jahiliyah masa lampau. Situasi kebodohan, kejahatan kemanusiaan, kekejaman perilaku seks, otoritarianisme kaum penguasa bahkan pembunuhan secara sadis.

Dalam sirah nabawiyah kitab Ar-Rahiqul Makhtum karya Syeikh Shafiyyur-Rahman Al-Mubarakfury, kondisi Arab Jahiliyah tersebut dikategorikan pada perilaku ekstrim dan radikal. Inilah krisis kemanusiaan yang terjadi pada masa Arab Jahiliyah yang telah menghilangkan eksistensi Tuhan pada peran-peran kehidupan manusia pada saat itu. Dan Nabi Muhammad SAW dihadirkan pertama kali di lingkungan masyarakat Arab jahiliyah untuk mengingatkan kembali sekaligus membumikan konsep tauhidullah di tengah-tengah kehidupan mereka.

Lalu bagaimana krisis kemanusian kontemporer? Pada hakikatnya memiliki banyak kesamaan dengan krisis yang telah terjadi pada masa lalu. Dari Iqbal, Sayyid Qutb, Ali Syari’ati, Sayyed Hosein Nasr sampai dengan Muhammed Arkoun, menegaskan bahwa krisis yang tengah terjadi pada dekade ini merupakan produk kegagalan modernitas Barat, yang terlalu mendewakan akal dan bendawi kemudian melemparkan otoritas Tuhan dalam membuat peta sejarah kehidupannya.

Di sisi lainnya diakibatkan oleh faham-faham deterministik Timur, yang telah mengakibatkan manusia kehilangan daya kreatifnya untuk selalu melakukan perubahan-perubahan yang positif dan sesuai syariat pada dataran realitas pribadi dan sosialnya sebagai hamba Tuhan. Khusus bagi bangsa bermayoritas penduduk Muslim, kondisi krisis inilah yang telah menjadi momok mengerikan bagi kelangengan pembangunan kehidupan mereka di era kontemporer.

Betapa tidak, kebanyakan dari mereka telah terserang oleh ganasnya virus halusinatif, terbelenggu dalam rantai skizhoprenia, terperangkap dalam penjara nihilisme, terjebak pada buadaya liberalisme, kapitalisme bahkan tidak sedikit terombang-ambing oleh magic atheisme.

Paralel dengan realitas keterpurukan komunitas Muslim kontemporer di atas, kekeliruan demi kekeliruan dalam menginterpretasikan nilai potensial dan aktual kreatifitas diri terus membanjiri ranah kognisi komunitas Muslim. Banyak di antara mereka yang mengklaim bahwa perjalanan hidupnya cukup hanya dengan kekuatan diri tetapi ujungnya beralih pada makna yang atheis, yakni menghilangkan peran-peran Tuhan dalam kehidupannya. Secara umum, manusia dengan anugerahnya itu telah bergeser pada kebebasan berkreasi yang terlepas dari basis ke-Tuhan-an.

Tidak bisa dipungkiri, menurut Haedar Nasher, kemajuan karya, cipta dan karsa manusia-manusia kontemporer telah berhasil menunjukkan kemajuan yang spektakuler, khususnya dalam bidang iptek dan kemakmuran fisik. Tetapi pada saat yang sama, ia telah menampilkan masalah kemanusiaan yang buram berupa gejala kesengsaraan yang akut, yakni kesengsaraan ruhaniyah.

Amatlah wajar bila kondisi saat ini, mekanisme hidup menjadi semakin demikian berjalan cepat, keras, tidak bersahabat dan materialistik, sehingga hal tersebut melahirkan berbagai bentuk deviasi atau penyimpangan dalam perilaku manusia. Manusia kontemporer mengalami sakit secara sosial seperti gejala sosiopatik (pathologi social), anomie, alienasi dan sejenisnya. Itulah pertanda yang paling absah dari krisis spiritual dan moral dalam kehidupan kontemporer.

Dalam lingkup komunitas Muslim, sejalan dengan postulat di atas, Abul A’la Maududi telah menggambarkan mengenai dilema kemanusiaan muslim kontemporer, yang garis besarnya adalah terlepasnya potensi kreasi mereka dari basis ke-Tuhanan dan beralih pada pendewaan pada akal ansich yang dikembangkan oleh para imperialisme Barat. Akar persoalannya menurut Kontowijoyo adalah lahir dari adanya dominasi epistemologi, konsep, pemikiran dan matras pandangan dunia (worldview) yang menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan sejati.

Bagi Sir Muhammad Iqbal, krisis ini sebagai akibat dari belenggu faham materialistik yang dikembangkan oleh Barat dan fatalistik yang senantiasa diagungkan oleh para sufi sesat di Timur. Kedua-duanya telah melahirkan semacam frustasi eksistensial dan neurosis noogenik di kalangan kaum muslimin. Artinya, faham fatalism telah menyebabkan kebanyakan kaum muslimin berubah menjadi pengkhayal akut; menghindari kenyataan hidup dan menolak realita dari eksistensi diri, sehingga mereka terseret ke jalur pengasingan diri dari kehidupan aktif.

Baca Juga:  Liga Spanyol, Athletic Bilbao Bungkam Perjuangan Huesca 2-1

Adapun faham materialism telah menumbuhkan proses dehumanisasi yang inheren dalam tubuh kaum muslimin, yakni melahirkan individu-individu yang teralienasi dari iman, alam bahkan dirinya sendiri.

Kondisi krisis kemanusiaan Muslim kontemporer ini dapat disimilasikan pada situasi masa akhir dinasti Mughal yang telah kehilangan seni mengenai hidup. Kondisi masyarakatnya sangat kaku, dogmatis, disharmonis, jiwanya terjepit, hidupnya hampa, basi, diulang-ulang, mekanis dan dekaden. Bahkan konvensasinya diwujudkan dalam perilaku-perilaku penyalahgunaan unsur seks, mabuk, judi dan kemalasan.

Begitu pun seperti halnya pada masa penguasa Umayyah yang mulai terjangkit wabah opportunistik, mereka telah terjebak pada faham materialisme praktis dan mengakibatkan kejatuhan diri dalam bentuk kemerosotan moral. Hal ini tidak bedanya dengan pandangan hidup Barat yang materialistik, yakni kosong, serba melalaikan, mabuk, masa bodoh dan tak tahu diri.

 

Misi kenabian dalam situasi krisis kemanusiaan

Misi kenabian dihadirkan pada situasi terjadinya krisis kemanusiaan. Gerakannya telah mensublimasi seluruh aspek-aspek kehidupan, baik dataran individual, sosial bahkan ruang-ruang kekuasaan politik. Dalam amatan sederhana, orbit misi kenabian ini telah menjangkau pelbagai problem teologi, humaniora dan sosio-kultural.

Pertama, Misi kenabian dalam jangkauan teologi merupakan gerakan membimbing manusia pada penyadaran persepsi untuk tidak melihat Tuhan hanya secara pasif sebagaimana pemahaman yang selalu dikobarkan oleh teologi fatalisme (deterministik). Akan tetapi mengarhkan pada interpretasi secara aktif ke dalam dunia sosial manusia.

Penafsiran teologi seperti ini harus dikonstruksi kedalam pesan-pesan kemanusiaan agar berdampak pada ajakan terapeutik bagi setiap orang untuk memiliki potensi mengungkapkan “siapa dirinya” yang sebenarnya, mampu menyingkirkan pelbagai rintangan hidupnya, mampu menciptakan perubahan-perubahan positif berkesinambungan, dan bahkan mampu mencapai kemerdekaan dirinya dari belenggu penjajahan kaum-kaum deterministik menuju pribadi sempurna (baca: insan kamil).

Misi kenabian dalam konteks ini akan mengarahkan manusia terutama kaum muslimin yang terkena krisis untuk bisa menyadari bahwa potensi Ilahiyah merupakan potensi-potensi ruhaniah yang diberikan Tuhan-nya. Yang semestinya dapat membangun dirinya untuk memiliki kemampuan mengenal kediriannya dan juga mampu mengenal sifat-sifat ketuhanannya dalam status sebagai makhluk theomorfik.

Bahkan dengan kemampuan potensi ini, setiap orang terutama kaum muslimin dimungkinkan dapat mengenal sisi trandesental dari kehidupan yang baik berupa cahaya iman maupun dalam bentuk pengalaman sadar.

Pengalaman sadar dari teologis yang merupakan pengejewantahan misi kenabian yang dapat menciptakan suatu bangunan manusia yang senantiasa melihat hidup sebagai proses membentuk, merubah tujuan-tujuan dan maksus-maksud yang dapat dikendalikan oleh dirinya sendiri sebagai hamba Tuhan di muka bumi. Ini berbeda dengan pandangan para pengekor fatalisme yang telah mengakibatkan kaum muslimin mengesampingkan kesempatan dari kebebasan kemanusiaannya untuk berkarya dan berinovasi.

Sehingga kaum muslimin hanya dikendalikan oleh rencana atau susunan abadi yang lebih dulu ada, yakni semacam nasib atau takdir absolut yang memiliki nilai kekakuan deterministik. Akan tetapi sebaliknya, orang-orang yang telah tercerahkan oleh misi kenabian akan memandang bahwa kehidupan yang dijalaninya sangat dinamis, penuh aspiratif, inisiatif, inovatif dan kreatif dalam upaya mewujudkan kehendak Tuhan di muka bumi ini.

Misi kenabiaan dalam jangkauan teologi mengarahkan kepada tujuan kesempurnaan hidup yang diintegrasikan pada setiap jalan menuju cita-cita kemuliaan yang diridhoi Tuhan. Oleh karena itu, formulasi theologi dalam Islam mesti dicairkan ke dalam nilai-nilai yang lebih manusiawi dalam hubungannya dengan kepentingan manusia untuk mengabdi secara berdaya manfaat di pentas kehidupannya. Artinya nilai-nilai teologis yang harus diinternalisir kepada penderita krisis kemanusiaan adalah konsepsi mengenai manusia sebagai pembentuk lingkungan dan pembuat nasibnya sendiri untuk bisa menuju pada maqam ridhonya Alloh.

Melalui konstruksi teologis seperti inilah, misi kenabiaan akan merehabilitasi setiap orang terutama kaum muslimin untuk memanfaatkan kekuatan-kekuatan alam dan potensi yang dianugerahkan Tuhan dalam konteks mencapai tujuan moral dan mendaur ulang eksitensi manusia setelah mengalami krisis untuk membangun susunan masyarakat berperadaban (al-farabi menyebutnya sebagai al-madinah al-fadhilah).

Kedua, misi kenabian dalam jangkauan humaniora telah menawarkan bentuk-bentuk terapeutik yang tidak berpaling dari problematika moralitas dan hubungan individu dengan tata nilai kemanusiaan. Dalam konteks ini, nilai-nilai konstruktif kemanusian selalu menyertai misi kenabian dalam perspektif Islam. Nilai-nilai konstruktif kemanusiaan tersebut mampu mereaktualisasi potensi setiap orang terutama kaum muslimin untuk menegakkan pranata-pranata kehidupannya yang berasimilasi dengan ungkapan-ungkapan theologinya. Artinya, misi kenabian dalam jangkauan humaniora selalu menggugah rasa pengabdian setiap orang terutama kaum muslimin dalam menetapkan kiprah menjalani kehidupannya sebagai makluk bermartabat di mata Tuhan-nya.

Misi kenabiaan dalam jangkauan humaniora, hakikatnya merupakan manifestasi dari nilai-nilai perjuangan untuk melawan pelbagai kemerosotan moral, mentalitas budak dan perbudakan yang merasuk ke dalam jiwa-jiwa setiap orang terutama sebagian kaum Muslimin. Misi kenabian ini menawarkan tentang:

1) Metodologi hidup bermakna yang mampu membimbing kerinduan setiap manusia kepada hidup yang abadi. Dengan kata lain sebagai wasilah yang berharga bagi prestasi kehidupan setiap manusia dalam mengembangkan perilaku-perilaku bermoral dan berakhlak untuk menciptakan kehidupan yang bermakna di hadapan Tuhan;

2) Pembinaan manusia yang mampu membangun dan meningkatkan kepribadian positif dan benar bagi setiap orang terutama kaum muslimin. Pembinaan manusia yang mampu memompa semangat kejantanan dan keberanian ke dalam hati setiap orang terutama kaum muslimin untuk menciptakan kerinduan didalam hatinya pada tujuan ideal dan berdaya manfaat bagi kehidupannya sesuai dengan pranata-pranata sosial yang disyariatkan Tuhan;

Baca Juga:  Pemkot Bandung Akan Bahas Kebijakan Karantina Wilayah

3) Kemajuan interaksi sosial yang mampu meninggikan kesadaran diri setiap orang terutama kaum muslimin untuk menumbuhkan potensi-potensinya dalam hubungannya dengan perilaku adaptasi yang sehat sesuai kehendak Tuhan ketika bersingungan dengan pelbagai kemajuan zaman, bukan sebaliknya perilaku maladaptif (menentang kehendak Tuhan), dan;

4) Nilai cinta pada Tuhan yang ditawarkan dalam misi kenabian merupakan senjata yang dapat dipergunakan dalam arena pertarungan melawan setiap pengekangan atas kebebasan dan kemerdekaan manusia dalam mengabdi kepada Tuhan-nya. Nilai cinta ini merupakan prinsip kelahiran kembali insan yang memiliki martabat kesempurnaan (fitrah) setelah terjatuh ke dalam kemerosotan moral dan spiritual.

Dengan nilai cinta, setiap orang terutama kaum muslimin mampu mengarahkan setiap orang terutama kaum muslimin untuk kembali pada pijakan fitrahnya sehingga mampu mengalahkan kekuatan-kekuatan yang berupa kejahatan moral dan spiritual yang sedang menimpa dirinya serta masyarakatnya.

Ketiga, misi kenabian dalam jangkauan sosio-kultural menawarkan gerakan terapeutik terhadap problematika sosio-kultural sebagai tempat manusia mengabdi. Dalam misi ini, setiap manusia terutama kaum muslimin diarahkan untuk memiliki kemampuan mengidentifikasi permasalahan yang dialami setiap orang tertama kaum muslimin dalam segala ungkapan permasalahan kosmologi, dan kemudian diterjemahkan dalam bentuk perilaku dan tata nilai yang penuh kobaran elan vital kesempurnaan akhlak dan kemuliaan hidup yang menyelamatkan (al-islam).

Sebagaimana telah diuraikan di awal, bahwa persoalan kaum muslimin pada dasawarsa kekinian berakar pada kehidupan yang diametris, yakni sebagian berperilaku theosentris (akhirat ansich) dan sebagian lagi berperilaku antroposentris (duniawi ansich). Sehingga kaum muslimin tidak menyadari bahwa dirinya adalah merupakan bagian dari sistem semesta, yang harus tunduk pada aturan-aturan adikodrati dan juga yang harus ikut berpartisipasi dalam menentukan nasibnya sendiri.

Dasar perilaku inilah yang telah menyebabkan kebanyakan kaum muslimin terserang penyakit neurosis kolektif dan neurosis noogenik. Neurosis kolektif adalah diakibatkan oleh perilaku pemujaan terhadap tata nilai fatalisme Timur, sedangkan neurosis noogenik diakibatkan oleh perilaku pemujan terhadap tata nilai materialisme Barat.

Dalam konteks ini, misi kenabian dapat membimbing setiap orang terutama kaum muslimin untuk kembali pada tata nilai Islam yang mengajarkan pengakuan terhadap perilaku fard (individu) maupun millat (kolektif). Kemudian diaktualisasikan kepada pernyataan diri, keteguhan, semangat kemerdekaan, naluri harga diri, idealisme dan tindakan luhur yang beradab. Misi kenabian ini selalu dipayungi oleh prinsip utama ajarannya, yakni tauhidullah. Sebab dengan tauhidullah, fard maupun millat tidak akan terperosok ke dalam kemerosotan ruhaniah dan materialistik.

Dengan nilai-nilai tauhidullah, fard maupun millat akan bersatu bersama nilai-nilai kebaikan dan kebenaran yang abadi. Kemudian dituntaskan pembentukkannya dalam sistem tata nilai yang terorganisir. Sistem tata nilai yang terorganisir yang mampu menuntun setiap orang terutama kaum muslimin agar tetap terjaga hubungan dirinya dengan Tuhannya serta hubungan dengan alam sebagai tempat pengabdian dirinya di dunia.

Segala aktivitasnya senantiasa terjaga untuk mengembangkan kepentingan-kepentingan kehidupan mulia yang merupakan bagian dari sistem semesta secara keseluruhan.

Reinterpretasi misi kenabiaan di atas—khususnya tiga sudut pandang yang telah diuraikan—, jika bisa disublimasikan pada kehidupan nyata maka dapat merefleksikan energi kuat dalam mengarahkan kekisruhan jiwa-jiwa manusia keseluruhan dan khususnya kaum muslimin untuk melakukan pencarian makna hidup di dalam situasi absurditas kontemporer.

Dengannya dapat memulihkan potensi ”penguasaan diri” (self control) dalam menghadapi pelbagai perubahan nilai dari setiap kondisi dinamika zaman. Bahkan melaluinya dapat menolong setiap orang terutama kaum muslimin dari akibat-akibat bekerja seperti mesin, dari kekacauan jiwa akibat penjajahan akal dan kesibukan duniawi, menuju penyelamatan diri yang paripurna.

 

Pentingnya Tauhidullah dalam Situasi Krisis

Kata tauhid merupakan kata benda yang berarti keesaan Allah dan kepercayaan bahwa Allah hanya satu. Perkataan tauhid berasal dari bahasa Arab, masdar dari kata Wahhada, Yuwahhidu, Tauhidan yang berarti mengesakan Tuhan. Secara etimologis, keyakinan bahwa Allah SWT adalah esa, tunggal, atau satu. Jubaran Mas’ud dalam kitab Raid Ath-Thullab menyatakan bahwa tauhid bermakna “beriman kepada Allah, Tuhan yang Esa” dan sering disamakan dengan “Laa Ilaha Illallah”.

Hakeem Hameed dalam “aspek-aspek pokok ajaran Islam” telah mengartikan tauhid sebagai sebuah kepercayaan ritualistik dan perilaku seremonial yang mengajak manusia menyembah realitas hakiki (Allah); dan menerima segala pesan-Nya yang disampaikan lewat kitab suci dan para Nabi untuk diwujudkan dalam sikap yang adil, kasih sayang, serta menjaga diri dari perbuatan maksiat dan sewenang-wenang demi mengerjakan perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Sdangkan tauhid menurut Abu al-A‟la al-Maududi dalam “prinsip-prinsip Islam” merupakan kalimat deklarasi seorang muslim yang menjadi pembeda antara seorang muslim dengan orang ingkar, ateis dan musyrik. Sebuah perbedaan yang lebih terletak pada peresapan makna tauhid dan meyakininya dengan sungguh-sungguh kebenaran-Nya dengan mewujudkannya dalam perbuatan agar tidak menyimpang dari ketetapan Ilahi.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin dalam “syarh tsalatsatil ushul” bahwa tauhid mengesakan Allah menjadi menjadi tidak tepat kecuali diikuti dengan penafian. Artinya menafikan segala sesuatu selain sesuatu yang menjadi satu, kemudian baru menetapkannya. Interpretasinya, seseorang bisa menepatkan Alloh itu Esa setelah menafikan segala sesuatu yang bisa merusak keyakinan kepada Allah yang Maha Ahad.

Berdasarkan paparan ini maka tauhid memiliki makna bahwa di dunia ini hanya ada satu Tuhan, yaitu Allah Rabbul’alamin. Tidak ada yang disebut Tuhan, atau di anggap sebagai Tuhan, atau dinobatkan sebagai Tuhan, selain Allah Swt. Jadi semua yang ada disemesta ini adalah makhluk belaka. Tidak boleh ada kepercayaan yang bersemayam dalam hati dan tiada selain Alloh yang pantas atau patut buat dipertuhan.

Baca Juga:  Dinkes Kota Bandung Ungkap Kendala ODF 100 Persen

Dalam keterangan al qur’an disebutkan bahwa tauhid merupakan kalimat thayyibah. Kalimat thayyibah ini memiliki makna yang baik, dan bila diucapkan akan mendatangkan manfaat dan pahala kepada seseorang dari Allah Swt. Begitulah Allah berfirman dalam Surat Ibrahin ayat 24-25, “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.”

Kalimat thayyibah ini juga berupa perkataan apa saja yang mengandung unsur amar ma`ruf nahyi munkar, yaitu memerintahkan kepada kebaikan dan mencegah dari kejelekan. Allah mengumpamakan kalimat thoyyibah tersebut seperti pohon yang baik dan cabangnya menjulang ke atas. Jika kalimat tersebut dibaca, diucapkan, diamalkan oleh setiap manusia dan terdengar oleh malaikat, akan diperoleh hasil yang sangat baik. Buahnya lebat, dan dapat dipanen baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Dalam situasi krisis kemanusiaan, dimana orang mengalami pelbagai penyakit ruhiah dan berdampak pada terjadinya patologi sosial, maka membumikan kalimat thoyyibah merupakan hal yang utama bagi setiap orang terutama orang-orang yang beriman. Kenapa? Untuk menafikan seluruh anasir, keyakinan dan perilaku yang dapat merusak ketertiban dalam kehidupan. Dan berganti pada kehidupan yang tertib dan menyelamatkan yang bersumber dari Alloh Maha Ahad melalui kitab suci dan risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.

Penting pembumian kalimat thayyibah dapat membimbing seseorang terutama orang-orang yang beriman agar tidak dirusak oleh tuhan-tuhan yang bersumber dari hawa nafsu dan bendawi dalam kehidupannya. Hawa nafsu dan tuhan bendawi yang telah menjadi sumber utama terjadi krisis kemanusiaan. Dirinya dengan berdzikir lisan dan mengamalkan “Laa Ilaha Illallah”, perasaan, pikiran dan perilakunya dipenuhi oleh asma-asma Alloh.

Dirinya merasa bahwa segala tindak-tanduk kehidupannya sedang menghadap dan diawasi oleh Allah. Sedikitpun tidak ada peluang untuk berbuat maksiat. Dalam kitab La Tahzan (Innallaha Ma`ana) yang ditulis oleh KH. Choer Affandi, kehidupan orang yang sudah bertauhid selalu dalam lingkaran makna-makna yang bersumber dari konsep “La maujuda illallah”, La ma`buda illallah, La mathluba illallah, dan La maqshuda illallah.

La maujuda illallah, tiada yang maujud, tidak ada yang dapat ditemui, tidak ada yang hakiki, kecuali Allah. Yang wujud selain Allah itu hanyalah semu. Semua yang ada di dunia mulai dari kemunculannya kelak akan menghilang. Sedangkan Allah tidak akan pernah hilang, selamanya “ada” dan hakiki. Pada konteks ini, bagi siapapun tak layak sombong, angkuh, arogan, adidung dan merasa sosk berkuasa karena semuanya yang dimilikinya semu. Saatnya pasti segala kepmilikannya akan diambil kembali oleh Alloh Maha Kuasa atas segala sesuatu di muka bumi ini.

La ma`buda illallah, tiada yang berhak diibadahi dengan nyata, disembah, dipuja dan dipuji selain Allah. Tidak pernah beralih sedikitpun menyembah kepada selain Allah Swt atau percaya bahwa ada yang berhak disembah selain Allah. Pda konteks ini, orang yang sudah bertauhid tidak pernah bersujud kepada sesama mahluk apalagi kepada manusia-manusia yang ingkar terhadap segala perintah Alloh yang selalu membuat kerusakan di muka bumi ini.

La mathluba illallah, tiada yang berhak dipatuhi dan ditaati perintah serta larangannya selain Allah. Suluk yang dipakai haruslah jalan Allah serta menuju kepada ridha-Nya. Papaun yang dilakukannya selalu mengunakan dan merujuk pada petunjuk Allah yang terdapat dalam Al-Quran dan Sunnah.

Dengan kata lain, orang yang sudah bertauhid selalu berpijak semua urusan kehidupannya dengan pedoman agama Islam, memegang teguh syariat-Nya, dan takwa yang sebenar-benarnya. Orang yang sudah bertauhid sangat berhati-hati dalam mengunakan rujukan selain hal yang bersumber dari Alloh. Apalagi mengambil rujukan dari hasil penafsiran hawa nafsu manusia, yang sering menjatuhkan martabat kemanusiaan dan menjauhkan dari nilai-nilai fitra manusia.

La maqshuda illallah, tiada yang berhak dituju dan berhak dimintai ridhanya selain Allah. Segala yang dilakukan orang yang sudah bertauhid, bukan untuk mengejar urusan dunia, ingin mendapatkan pangkat dan kedudukan, mengharapkan wibawa dan penghormatan, bukan pula ingin mendapatkan harta dan wanita. Akan tetapi, semua yang dilakukanya hanya dalam rangka ibadah semata, bekerja ikhlas dalam menjalankan agama Islam, dan ingin diridhai oleh Alloh Swt. Ringkasnya bagi orang yang bertauhid, “di sini, saat ini, aku adalah hasil ketetapan Alloh, pada ketetapan yang ini, aku mengabdi kepada Alloh, perbuatan apapun dilakukan karena perintah Alloh, dan perbuatan itu dilakukan karena mengharap ridha Alah.”

Paparan-paran diatas, misi kenabian dijalankan dan tauhid dibumikan maka diyakini dapat menyelesaikan masalah-masalah kehidupan, baik itu yang berkaitan dengan problematika teologis, humaniora dan sosio-kultural dalam kehidupan kontemporer saat ini. Sebagaimana misi kenabian dan tauhid di masa Rasululloh telah mampu menyelesaikan problematika-problematika tersebut, yang wujudnya berupa perilaku-perilaku menyimpang dan sifat sangat ekstrim dan radikal.

Itulah yang harus menjadi keyakinan setiap orang terutama kaum muslimin saat mengerakkan misi kenabian dan membumikan kalimat tauhid. Dalam kontek ini, sepakat dengan ujaran Sir Muhammad Iqbal, bahwa “memegang apa yang ada dan dilandasi satu keyakinan dan keinginan untuk menciptakan apa yang seharusnya, adalah sikap yang sehat dan hidup, selain itu hanyalah keruntuhan dan kematian”. ***

 Ketua Jurusan Bimbingan dan Konseling Islam, Fakultas Dakwah dan Komuikasi UIN SGD Bandung, dan Pembina Yayasan Lidzikri

 


Ikuti Media Sosial dan Youtube Channel Kami:
Instagram:www.instagram.com/madaniacoid/
Twitter: twitter.com/madaniacoid/
Facebook: facebook.com/madaniacoid
Youtube: youtube.com/madaniacoid
Jangan lupa like, comment, share, dan subscribe

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here