Nuansa Alam Indah Cukang Taneuh, Green Canyon Pangandaran

47
Green Canyon. Foto/ instagram @cukangtaneuh90

CUKANG TANEUH Green Canyon di Pangandaran adalah destinasi yang bisa dikategorikan sebagai lanskap tropis yang unik, di antara kedua dinding ngarai yang berwarna hijau karena ditumbuhi lumut ini anda bisa langsung melihat fenomena alam yang menarik, adanya stalagtit dan stalagmit yang dapat disaksikan secara langsung di ruang terbuka, bukannya di kedalaman lorong-lorong gua bawah tanah.

Masyarakat setempat menyebutnya sebagai “Cukang Taneuh” bahasa Sunda yang berarti Jembatan Tanah, karena di lokasi tersebut terdapat jembatan yang terbangun secara alami dari tanah selebar 3 meter dan dipergunakan masyarakat sebagai jembatan, sarana penghubung diantara tebing batu di antara dua desa yang berdekatan.

Di sini, wisatawan bisa menikmati keindahan sungai dengan pemandangan sekitarnya yang menarik. Air yang jernih, pepohonan rimbun, tebing karst, air terjun kecil, hingga bebatuan yang tampak unik.

Sepanjang perjalanan, pengunjung akan bertualang menyusuri sungai yang terlihat seolah hijau karena pantulan warna dedaunan. Tapi, air di sini benar-benar jernih dan menyegarkan. Pengunjung harus berenang hingga berjalan kaki melewati bebatuan.

Tak perlu khawatir jika tak bisa berenang. Sebab, setiap wisatawan dibekali pelampung, helm, sepatu karet, dan  didampingi pemandu yang siap membantu jika sewaktu-waktu anda perlu bantuan.

Green Canyon kini jadi favorit wisatawan. Tahun lalu, pengunjung yang menikmati kegiatan body rafting menjadi 15 ribu orang. Hal ini berdampak positif untuk kegiatan ekonomi warga setempat. Bahkan, perputaran uangnya mencapai Rp2 miliar.

Hal ini berbanding terbalik dibanding sebelum Green Canyon jadi tempat wisata dan menyuguhkan body rafting. Jangankan jadi tempat wisata, warga setempat pun takut untuk masuk ke Green Canyon.

“Dulu sebelum jadi tempat wisata, bagi masyarakat di sini, Green Canyon itu adalah tempat angker. Tapi setelah jadi tempat wisata, secara perlahan mulai berkembang dan memberi manfaat bagi warga di sini,” jelas Teten.

Baca Juga:  Tiga Wisata Kuliner Malam dengan Suguhan City Light Kota Bandung

BUMDes Guha Bau berusaha terus mengembangkan potensi wisata di Desa Kertayasa. Rencananya akan dibangun tempat pentas untuk menampilkan ragam kesenian khas daerah.

“Ke depan, kita juga akan mengembangkan Green Coral yang sekarang belum begitu dikelola karena kemarin kondisi sungainya tidak ada airnya akibat kemarau,” tutur Teten.

Yang menarik, berbagai pengembangan dan pengelolaan wisata oleh BUMDes Guha Bau sangat fokus pada pemberdayaan masyarakat. Mayoritas yang dilibatkan adalah para tenaga lokal atau warga setempat.

Hal ini memang berdampak pada lambatnya kemajuan karena tak ada investor luar yang masuk. Tapi, hal ini membuat warga setempat bisa tetap berdaya di daerahnya sendiri.

“Memang untuk progres terus terang saja (pengembangan wisata) di desa ini lambat. Tapi, kami punya keyakinan, walopun lambat tapi insya Allah dengan keyakinan dan cita-cita yang besar kita, insya Allah bakal mampu. Daripada cepat (dengan kehadiran investor) tapi kita hanya sebagai pembantu, lebih baik jadi pelaku walaupun lambat,” pungkas Teten.

Kini Cukang Taneuh menjadi tempat favorit di Green Canyon Pangandaran. Mengingat seluruh tempat wisata di Pangandaran sudah dibuka kembali, pengunjung pun sudah mulai ramai berdatangan.(revi ryan fidryansyah)


Ikuti Media Sosial dan Youtube Channel Kami:
Instagram:www.instagram.com/madaniacoid/
Twitter: twitter.com/madaniacoid/
Facebook: facebook.com/madaniacoid
Youtube: youtube.com/madaniacoid
Jangan lupa like, comment, share, dan subscribe

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here