Sosok dan Asa Usep Romli HM Sebelum Meninggal

186
Usep Romli HM
H. Usep Romli HM (Foto: Facebook)

Madania.co.id, Bandung — Kabar meninggalnya H Usep Romli HM, jurnalis senior Pikiran Rakyat dan sastrawan Sunda, Rabu (8/7/2020), cukup menghentak banyak orang, termasuk AS Haris Sumadiria, penulis dan dosen Ilmu Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

“Tadinya akang ragu akan kebenaran berita duka itu,” ujarnya Rabu (8/7), saat diminta pandangannya tentang sosok almarhum Usep Romli.

Namun, setelah melakukan pengecekan tentang kebenaran berita itu, Haris baru yakin.

“Jujur, awalnya akang benar-benar tidak yakin. Pasalnya, beberapa hari sebelumnya akang sempat berkomunikasi dengan beliau melalui chat whatsapp,” jelas Haris seraya menambahkan bahwa dirinya sering diskusi ngalor-ngidul dengan almarhum tentang banyak hal.

Di mata Haris, almarhum adalah tipikal jurnalis masagi, sosok yang memiliki komitmen yang kuat terhadap dunia media, Islam, dan budaya.

Almarhum lahir di Garut, Jawa Barat, pada 16 April 1949. Usep Romli yang biasa disapa Kang Usep atau Haji Usep adalah sosok wartawan yang santun, berpengetahuan luas, dan selalu men-support para jurnalis dengan sepenuh hati, terlebih para jurnalis muda.

Diakui Haris, tali persahabatannya dengan almarhum sudah terbangun sejak lama.

“Lebih dari 20 tahun, sejak akang aktif menjadi jurnalis pada 1983. Ya Allah, semoga almarhum husnul khotimah,” ujar Haris.

Tiada Hari Tanpa Menulis

Di mata Haris, almarhum Usep Romli adalah seorang jurnalis yang memiliki komitmen kesundaan dan keislamanan yang luar biasa kuatnya.

AS Haris Sumadiria
AS Haris Sumadiria (Foto: Dokumentasi Madania)

Produktivitas menulisnya juga luar biasa hebatnya. Tiada hari tanpa menulis, mewartakan apa saja yang merisaukan hatinya, dan dianggap penting bagi publik.

“Pokoknya, akang itu salut dan menaruh hormat. Pada masa hidupnya, beliau adalah seorang jurnalis, penulis, sekaligus sastrawan yang  memiliki komitmen, dan integritas yang layak ditiru dan diikuti. Ia juga sosok yang rendah hati, someah, dan baik pada siapa pun,” papar Haris.

Baca Juga:  Kang Emil Mulai Ikuti Rangkaian Uji Klinis Sinovac

Ingin Garut Tetap Dikenal

Dalam perbincangan hari-hari sebelum meninggal, kata Haris, almarhum juga tengah merisaukan salah satu jurnalis purnabakti yang sedang sakit.

Ia sangat peduli, dan berkeinginan menggalang donasi untuk meringankan biaya pengobatannya.

Tak hanya itu, almarhum juga bercerita tentang Garut, tanah kelahirannya.  Termasuk tentang Museum Garut yang dinilainya masih sekadar asal ada, padahal Garut itu termasuk daerah yang kaya sejarah.

Tak hanya Charlie Chaplin, tapi juga sastrawan pememang nobel pun pernah ke Garut.

“Beliau ingin Museum Garut itu representatif, yang mampu menggambarkan Garut dari zaman ke zaman. Almarhum berharap museum itu dikelola lebih baik lagi. Almarhum ingin Garut tetap dikenal dunia,” jelas Haris, seraya menjelaskan bahwa almarhum juga berharap komunitas sastra di Garut juga perlu dibangkitkan lagi. (EMH).*

 


Ikuti Media Sosial dan Youtube Channel Kami:
Instagram:www.instagram.com/madaniacoid/
Twitter: twitter.com/madaniacoid/
Facebook: facebook.com/madaniacoid
Youtube: youtube.com/madaniacoid
Jangan lupa like, comment, share, dan subscribe

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here