Syahrul Qur’an, Menghidupkan Gagasan Islam Berkedamaian atau Islam Perdamaian

179
Syahrul Qur/an
Foto: internet

Oleh Dr. Dudy Imanuddin Effendi, M. Ag

ADAKAH pijakan teologis tentang gagasan besar “Islam berkedamaian” atau “Islam Perdamaian”. Jawabannya banyak, bahkan yang akan disebutkan dalam catatan sederhana ini hanya sekelumit kecil dalil saja. Penyebutan dalil ini pun bersifat tekstual dan tanpa melakukan penafsiran terlalu jauh.

Uraian sederhana ini diawali dengan pertanyaan: “Tahukah apa yang paling mensejarah dan monumental dalam kejadian di bulan Ramadhan?”. Salah satu jawabannya adalah kejadian turunnya wahyu kepada Baginda Rasululloh. Kejadian paling monumental di bulan Ramadhan inilah yang telah membuka cakrawala awal tentang gagasan besar “Islam berkedamaian” atau “Islam Perdamaian” untuk dipertimbangkan menjadi arus utama kajian di tengah-tengah banyak perselisihan antar umat manusia, terutama antar kaum muslimin saat-saat ini.

Kembali pada kejadian paling monumental di bulan ramadhan, salah satunya keberkahan diturunkan alquran kepada umat manusia. Alquran sebagai pedoman bagi manusia agar hidup selalu berada dalam kebenaran. Alquran sebagai petunjuk dan penjelas bagi manusia agar bisa membedakan pilihan hidup, antara yang benar (haq) dan salah (bathil). Salah satu dalil yang menjelaskan tentang hal ini termaktub dalam surat albaqarah ayat 185, yakni:

“Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang didalamnya diturunkan Al-Quran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang batil).”

Dalam ayat di atas disebutkan bahwa alquran merupakan petunjuk (hudan), penjelas (bayyinat) dan pembeda (furqon). Khusus, penamaan alquran sebagai pembeda (furqon) disebutkan juga langsung dalam surat al furqon ayat 1, yang bunyinya:

“Mahasuci Allah yang telah menurunkan Furqan (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya (Muhammad), agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam (jin dan manusia)”

Baca Juga:  Ema Sumarna Minta Pemprov Jabar Jelaskan Perubahan Zona Merah Covid-19 Kota Bandung

Secara sederhana kata furqon oleh sebagian mufassir disebutkan sebagai masdar. Kata yang memiliki makna bahwa “Allah telah menurunkan pemisah (fashl) dan farq (pembeda) antara benar dan salah”. Kata fashl dan farq ini diturunkan di dalam alquran, sebagai pemisah antara tauhid dan syirik, antara alhaq dan bathl, antara i’thisom dan tafarruq serta lainnya.

Lebih mengerucut, kepada hal yang terkait dengan tafarruq. tafarruq adalah tindakan yang bertentangan dengan i’thisom, bahkan dalam surat ar rum ayat 30-32 disebut sebagai perilaku musyrik (makna literal).

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (30), dengan kembali bertobat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah salat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah (31), yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka (32).”

Isyarat “musyrik” yang berupa perilaku tafarruq sepertinya masuk kategori tindakan bathil. Bahkan jauhnya, perilaku musyrik sangat bertentangan dengan keyakinan tauhid yang memghendaki adanya perilaku i’thisom. Pertanyaannya, “kenapa i’thisom berganti tafarruq?”Salah satu jawabannya didalam surat as syuro ayat 14, sudah sangat jelas digambarkan bahwa sebab lahirnya perilaku tafarruq adalah sebagai berikut:

“Dan mereka tidak berpecah belah, kecuali setelah datang pada mereka ilmu pengetahuan, karena kedengkian di antara mereka. Kalau tidaklah karena sesuatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulunya (untuk menangguhkan azab) sampai kepada waktu yang ditentukan, pastilah mereka telah dibinasakan.”

Baca Juga:  Hakikat Hijrah di Era New Normal

Lalu tindakan paling baik seperti apa yang harus dilakukan ketika melihat perpecahan yang menjurus kepada peperangan di kalangan orang-orang beriman? Surat al hujurat ayat 9-10 menyebutkan bahwa tindakan terbaik bagi orang yang beriman adalah “mendamaikan”. Perintah ini sangat jelas disebutkan dalam surat al hujurat tersebut, sebagai berikut:

“Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang, maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain, maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil, dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil (9). Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat (10).”

Bahkan dalam surat an nisa ayat 114 telah ditegaskan bahwa salah satu ikhtiar mendapatkan ridho Alloh adalah perilaku yang selalu menciptakan “perdamaian” diantara manusia. Sebagaimana bunyinya sebagai berikut:

“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.”

Untuk tindakan menciptakan perdamaian ini, baginda Rasululloh menyebutkan sebagai “perkara sangat utama.” Hal ini diuraikan secara jelas dalam hadist yang diriwayatkan oleh imam Abu Dawud dan imam Tirmidzi sebagai berikut:

أَلاَ أُخْبِركُمُ بِأَفْضَلَ مِنْ دَرَجَةِ الصِّياَمِ وَالصَّلاَةِ وَالصَّدَقَةِ؟ قَالُوْا: بَلَى، قَالَ: صَلاَحُ ذَاتِ البَيْنِ؛ فَإِنَّ فَسَادَ ذَاتِ البَيْنِ هِيَ الحَالِقَةُ

Baca Juga:  Paguyuban Sepeda Baheula Bandung Rayakan Hari Jadi ke-210 Kota Bandung

“Maukah aku beritahukan kepadamu perkara yang lebih utama daripada puasa, shalat dan sedekah ? Para sahabat menjawab, “Tentu wahai Rasûlullâh.” Beliau bersabda, “Yaitu mendamaikan perselisihan diantara kamu, karena rusaknya perdamaian diantara kamu adalah pencukur (perusak agama)”.

Akhiran, surat, ayat dan hadist yang sudah disebutkan diatas hanya sebagian kecil teks-teks dalil qauliyah yang dapat menjadi landasan teologis dalam menguatkan pengarusutamaan gagasan “Islam berkedamaian atau Islam perdamaian.”

Sepakat dengan turast yang diwariskan oleh KH. Abdul Halim dan KH. Ahmad Sanusi pendiri organisasi Persatuan Umat Islam, gagasan ini sangat berkaitan erat dengan agenda “ishlahul ummah”. Begitupun sesuai dengan isyarat dari dalil-dalil qauliyah yang telah mengambarkan kepada orang-orang yang beriman bahwa Islam harus selalu tampil sebagai agama yang “mendamaikan” dari pelbagai perselisihan dan perpecahan yang sering terjadi, baik sesama kaum muslimin atau sesama umat manusia.

Di Bulan ramadhan ini menjadi sangat tepat pengarusutamaan gagasan “Islam berkedamaian (al islam silmiin) atau Islam perdamaian (‘iislam alsalam)” terus di gelindingkan terus kepada publik. Paling tidak, momentumnya sangat tepat dimana bulan ramadhan sebagai syahrul quran. Bulan diturunkannya alquran sebagai rujukan utama dalam mendamaikan hidup dan kehidupan dari pelbagai anasir perselihan serta perpecahan.

Uraian sederhana ini dipungkas dengan surat al furqon ayat 63, yang berbunyi: “Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan “salam”.

Penulis, Ketua Jurusan BKI FDK UIN SGD Bandung dan Lajnah Buhuts Dewan Syariah PUI Jawa Barat#


Ikuti Media Sosial dan Youtube Channel Kami:
Instagram:www.instagram.com/madaniacoid/
Twitter: twitter.com/madaniacoid/
Facebook: facebook.com/madaniacoid
Youtube: youtube.com/madaniacoid
Jangan lupa like, comment, share, dan subscribe

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here