Tawadhu: Bukan Egoisme Beragama

364

Oleh Dr. Dudy Imanuddin Effendi, M.Ag

Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung (Q.S, Al Isra’: 37)

SEJATINYA, Islam tak pernah mengajarkan beragama dengan cara pandang dan perilaku egois. Para ulama telah fokus sejak dulu pada persoalan moral dan akhlak.

Menurut sebagai para ulama, Islam telah memerintahkan umatnya untuk senantiasa menampilkan akhlak yang mulia dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu akhlak mulia yang ditekankan dalam Islam adalah untuk bersikap tawadhu atau rendah hati.

Seseorang yang telah mampu menghiasi dirinya dengan sifat tawadhu, maka ia akan berusaha menghilangkan sifat-sifat tidak terpuji seperti kesombongan, keangkuhan, merasa paling hebat, tinggi hati, dan segudang penyakit hati yang lain dari dalam dirinya. Tawadhu dalam konteks sosial akan tercermin pada bentuk perilaku yang lebih mengutamakan ukhuwah insaniyah, ukhuwah wathaniyah dan ukhuwwah Islamiyah daripada mementingkan egoisme diri sendiri atau kelompok.

Dalam beberapa keterangan, perilaku egoisme diri sendiri atau kelompok baik itu yang berkaitan dengan pemikiran maupun beragama biasanya selalu menghadirkan perilaku tafaruq, namimah, ghibah, ujub, takabur, dan yang lainnya. Sejak lama agama Islam mengajarkan kepada para penganutnya (beragama Islam) untuk menjauhinya bahkan menguburnya dalam-dalam agar tidak menjadi atribut yang selalu menyelimuti perilaku dirinya.

Nabi Muhammad, Rasulullah SAW telah menegaskan salah satunya dalam sebuah hadist:

Janganlah menyatakan diri kalian suci. Sesungguhnya Allah yang lebih tahu manakah yang baik di antara kalian” (HR. Muslim no. 2142) dan “Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian bersikap rendah hati hingga tidak seorang pun yang bangga atas yang lain dan tidak ada yang berbuat aniaya terhadap yang lain.” (HR Muslim no. 2865)

Simbol Keagamaan

Dalam kajian sosiologi agama, psikologi, budaya, filsafat dan bahkan teologi, memang hampir tidak ketemu dengan istilah “egoisme beragama”. Yang ada hanya istilah-istilah seperti: truth claim, fanatisme, skriptualisme, eksklusivisme, ekstrimisme, dan partikularisme. Istilah-istilah ini menyajikan bahasan sedikit tentang beragama dengan cara yang egois.

Baca Juga:  Berikut Jadwal SIM Keliling Online Kota Bandung Hari ini

Egoisme dalam praktik beragama tak bisa dinegasikan memang sering terjadi. Ia lebih dipicu oleh upaya pemeliharaan simbol keagamaan untuk kepentingan eksistensi kelompok atau identitas dirinya sendiri (baca teori latency dari Talcott Parson). Atau karena side effect dari adanya pertarungan antar aktor agama (baca teori gerakan sosial Islam dari Quintan Wiktorowicz).

Fanatisme Buta

Dalam pelbagai pendekatan ketika berbicara agama, rasanya ia sebenarnya tidak mengajarkan, menganut, dan memberlakukan perilaku egoisme. Agama di mana pun bukan hanya Islam, sebenarnya para nabi dan kitabnya memperlihatkan anti egoisme. Agama senantiasa mengarahkan umatnya pada suatu kepedulian yang bukan hanya tertuju pada dirinya sendiri tetapi juga pada dunia sosialnya, bahkan jauhnya pada kepedulian atas pertanggungjawaban dan keselamatan setelah hidup di dunia.

Dalam sebagian kajian pendekatan heurmetika telah menegaskan bahwa egoisme dalam beragama hakikatnya fanatisme buta. Dalam konteks beragama, fanatisme selalu menjadi masalah. Fanatisme buta merupakan pengkhianatan terhadap ajaran agama itu sendiri.

Fanatisme merupakan pembuktian kurang luasnya seseorang memahami perbuatan Tuhan atau ajaran agama yang dianutnya. Pada konteks ini, fanatisme secara hakiki adalah egoisme yang berbulu agama. Ujungnya kebenaran agama kadang terkubur oleh ambisi-ambisi kekuasaan di dunia dengan latar fanatisme akut atas satu tafsir keagamaan tertentu.

Partikularisme dalam Beragama

Pada sisi filosofis, fanatisme buta juga disebabkan adanya sikap dan pandangan partikularisme dalam beragama. Loren Bagus dalam “Kamus Filsafat” menyebutkan bahwa partikularisme berarti sistem, sikap, cara pandang yang mengutamakan kepentingan pribadi (diri-sendiri) di atas kepentingan umum, baik itu aliran politik, ekonomi, kebudayaan, bahkan sekarang mengejala pada ruang keberagamaan (bukan agama tetapi tafsir keagamaan).

Partikularisme biasanya ditunjukkan dengan penguatan kebenaran pendapat dan melakukan kegiatan berdasarkan batasan atau karakteristik personal atau kelompok tertentu, baik beragama, berbangsa, suku, kedaerahan, atau letak geografis. Misalnya, cara beragama Individu atau kelompok A dihukumi salah, karena tidak sama atau sesuai dengan tafsir keberagamaan yang dilakukan oleh individu atau kelompok B.

Baca Juga:  Ini Dia Prototype Manusia Terbaik

Padahal tafsir keberagamaan itu sangat banyak dan bisa dijadikan rujukan. Tetapi dalam pandangan orang atau kelompok yang terjebak pada cara berpikir partikularisme, tetap saja kalau tidak sesuai dengan cara tafsir mereka dianggap salah. Sikap dan pandangan partikulariame dalam beragama bisa memicu terjadinya konflik di tengah-tengah kehidupan masyakarat yang majemuk dan plural.

Selain itu, logika partikilarialame dalam beragama dapat mengancam sendi-sendi persaudaraan yang telah dibalut oleh nilai-nilai ketauhidan. Dalam hal ini, sejak dulu agama Islam telah mengajarkan mengenai sikap dan cara pandang universal (kafah) dan komprehensif (syumuliyah), bukan partikularisme yang bisa melahirkan perpecahan (tafaruq).

Dua Masalah Besar

Dampak negatif dari tradisi dan perilaku egoisme beragama dapat menjadi penghalang utama bagi terealisasinya kehidupan moral dalam kehidupan manusia. Egoisme telah menjadi kontributor utama bagi beragam perilaku antisosial, tindakan berlebihan menjurus dosa dan perselisihan sosial. Kebanyakan agama, sebagian besar setuju bahwa egoisme dalam beragama akan menciptakan dua masalah besar.

Pertama, egoisme dengan pikiran dan perilaku dalam beragama akan melahirkan tindakan yang menafikam kemaslahatan umum. Sebagian pemikir keagamaan, egoisme bersinonim dengan kesombongan dan ujub makhluk. Dan hampir semua ajaran agama umumnya memposisikan sebagai aktribut jahat dan tercela.

Kedua, merasa benar sendiri akan menganggu wawasan spiritual saat berhubungan dengan yang Ilahi. Dampak kejahatan dari beragama yang egois dapat mengarahkan perilaku “merasa lebih unggul” dari orang lain. Dan tanpa sadar atau sadar selalu mengutuk mereka yang tidak memiliki pandangan yang sama, memaksa orang lain supaya sama, dan bahkan memerangi dengan cara yang egois juga. Secara historis, egoisme dalam beragama merupakan salah satu paradoks terbesar dalam sejarah manusia yang mengaku beragama.

Baca Juga:  Mengenal Kertas Daluang yang Eksis Sejak Abad Ke-9

Islam Tak Ajarkan Egoisme

Dalam rentang sejarah yang memunculkan istilah yang mirip dengan egoisme beragama adalah para pemikir dan penganut mazhab utilitarian, nihilisme dan atheisme. Semisal istilah otoritarianisme keagamaan, fasisme agama, despotisme agama, absolutisme agama dan lainnya.

Akan tetapi agama khususnya Islam dan ajarannya sejak lahir tak mengajarkan sama sekali para penganutnya untuk beperilaku egois dalam beragama, baik dalam konteks dirinya saat berhubungan dengan relasi-relasi insaniyah, wathaniyah maupun Islamiyah.

Beragama dalam ajaran Islam tidak mengajarkan egoisme yang bisa melahirkan kesombongan, keangkuhan, merasa paling hebat, tinggi hati, bangga diri dan segudang penyakit hati yang lain dari dalam dirinya.

Tetapi Islam pun tidak mengajarkan perilaku yang bersumber pada rendah diri, yang kadang bisa menjadi objek atau subjek penjajahan dan penindasan orang lain yang berperilaku egois.

Islam mengajarkan tentang ketawadhuan (rendah hati), tetapi pada waktu tertentu mengajarkan juga keberanian untuk melawan setiap penjajahan, penindasan dan penyimpangan yang dilakukan manusia-manuasia egois.

Inilah komitmen beragama dalam ajaran Islam, “berjalan penuh rendah hati agar lahir ukhuwah insaniyah, wathaniyah dan islamiyah yang dilambari karakter taawun, takaful, tafahum, tasamuh, taraahum, fastabiqul khairat, ittihadul ummah, bahkan jihad fisabilillah (bukan mengembangkan jihad di jalan selain jalan Allah).

Inilah salah satu jalan beragama dalam ajaran Islam, “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri” (QS. Lukman: 18).***

Ketua Jurusan Bimbingan dan Konseling Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung serta Pembina Lidzikri Foundation.


Ikuti Media Sosial dan Youtube Channel Kami:
Instagram:www.instagram.com/madaniacoid/
Twitter: twitter.com/madaniacoid/
Facebook: facebook.com/madaniacoid
Youtube: youtube.com/madaniacoid
Jangan lupa like, comment, share, dan subscribe

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here