Wacana Ganti Nama Provinsi, Suara Warga Jabar Beragam

55
Gedung Sate, salah satu icon Jawa Barat.
Gedung Sate, salah satu icon Jawa Barat.

Madania.co.id, Bandung – Belakangan beredar  wacana penggantian nama Provinsi Jawa Barat menjadi Provinsi Sunda atau Tatar Sunda. Hal tersebut tercetus dalam sebuah diskusi bertajuk “Dialog Aspirasi Pengembalian Nama Provinsi Jawa Barat Menjadi Provinsi Sunda” di Perpustakaan Ajip Rosidi, Kota Bandung, Senin (12/10).

Dalam diskusi itu, anggota DPD  asal Jabar, Eni Sumarni, menyinggung sejarah masa lalu Provinsi Jawa Barat.

Ia khawatir nama Sunda akan tergerus perkembangan zaman.

“Nama Sunda dari dulu ada di peta dunia, saya khawatir bila nama ini tidak digunakan, Sunda bisa tergerus dan semakin menghilang. Kita dukung para tokoh Sunda yang ingin mengembalikan nama Sunda ke provinsi,” ujarnya.

Madania.co.id mencoba menghimpun sejumlah pendapat dari masyarakat Jawa Barat terkait wacana perubahan nama provinsi tersebut.

Salah satu karyawan swasta di Jawa Barat, Ricky Fatria (24 tahun) mengaku setuju dengan adanya wacana tersebut mengingat di Pulau Jawa Provinsi Jabar letaknya bukan yang paling barat.

“Kalau saya melihat identitas sundanya, karena tahun 1920 an nama Provinsi Sunda sudah mendunia, dan kita tahu Jawa Barat kan letaknya bukan barat, Banten baru provinsi barat” kata dia, Sabtu (17/10/2020).

Selain Ricky, Alif Ichwanudin (23 tahun), mahasiswa asal Kabupaten Indramayu memiliki sudut pandang berbeda dengan Ricky.

Menurut Alif, wacana penggantian nama Provinsi Jabar menjadi Provinsi Sunda harus memiliki urgensitas dan substansi yang jelas, mengingat di Jawa Barat terdapat budaya dan suku lain.

“Jika suku lain meminta nama sukunya menjadi provinsi, akan ada 1340 provinsi yang bernamakan suku daerahnya di Indonesia (menurut data BPS 2010) ini kan lucu bisa masuk guinnes world record,” paparnya, lewat pesan singkat.

Baca Juga:  Empat Mahasiswa Unpad Kembangkan Pasta Gigi Tablet

Alif menambahkan, jika hal tersebut belandaskan urgensi untuk menjaga sejarah serta budaya, ia rasa tidak perlu dengan mengubah nama provinsi. Ia khawatir, hal tersebut bisa memicu prasangka buruk dan permusuhan.

“Khawatir wacana tersebut dapat membangkitkan semangat primordialisme, semangat budaya sub nasional yang berlebihan, bisa membangkitkan prasangka buruk serta menyebabkan permusuhan terhadap golongan atau kelompok sosial lainnya yang berbeda,” ujarnya.

Di lokasi berbeda, Herlan (47 tahun) salah satu pedagang kaki lima di Kota Bandung menuturkan, apapun nama provinsinya ke depan, apakah tetap memakai nama Provinsi Jawa Barat atau jadi Provinsi Sunda,  ia berharap provinsi ini bisa jadi lebih baik dan menjamin kesejahteraan masyarakatnya.

“Ya, saya mah ikut saja, yang penting pemerintah bisa menjamin kebutuhan hidup warganya,” pungkas Herlan.(mrf)


Ikuti Media Sosial dan Youtube Channel Kami:
Instagram:www.instagram.com/madaniacoid/
Twitter: twitter.com/madaniacoid/
Facebook: facebook.com/madaniacoid
Youtube: youtube.com/madaniacoid
Jangan lupa like, comment, share, dan subscribe

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here