Bandung, Madania – Di tengah meningkatnya kasus kejahatan siber, kesadaran publik terhadap perlindungan data pribadi masih menjadi pekerjaan rumah.
Celah literasi ini yang coba dijembatani dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Telkom University lewat kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Kelurahan Lebak Gede, Jumat, 24 April 2026.
Kegiatan bertajuk “Peningkatan Kesadaran dan Perilaku Terkait Perlindungan Data Diri dan Etika Bersosial Media” ini tidak sekadar forum sosialisasi.
Ia menjadi ruang berbagi pengalaman tentang bagaimana kejahatan digital bekerja—dan bagaimana masyarakat kerap tak menyadarinya.
Dipimpin Maya Irjayanti dan menghadirkan Galuh Sudarawerti sebagai narasumber, kegiatan ini dibuka oleh Guru Besar Telkom University, Anton Mulyono Azis. Dalam sambutannya, ia menegaskan kompleksitas ancaman digital saat ini.
“Pentingnya kesadaran masyarakat terhadap keamanan data pribadi di era digital yang semakin kompleks,” ujarnya. Jum’at 24 April 2026
Diskusi berlangsung cair. Sejumlah peserta mengungkap pengalaman menjadi korban penipuan online hingga penyalahgunaan data pribadi.
Dari cerita-cerita itu, tampak pola yang berulang: rendahnya kewaspadaan, minimnya pemahaman soal jejak digital, dan lemahnya kontrol terhadap informasi pribadi yang dibagikan di ruang publik.
Fenomena ini mencerminkan tren yang lebih luas. Di Indonesia, kejahatan siber berkembang seiring penetrasi internet yang kian masif.
Modusnya beragam—dari phishing, social engineering, hingga eksploitasi data di media sosial. Dalam banyak kasus, korban tidak sepenuhnya menyadari titik awal kebocoran data yang mereka alami.
Penyuluhan ini mencoba memutus rantai tersebut. Bukan hanya lewat transfer pengetahuan, tetapi juga mendorong perubahan perilaku.
Peserta didorong untuk lebih kritis dalam membagikan informasi, memahami risiko interaksi digital, serta menerapkan etika dalam bermedia sosial.
Lebih jauh, kegiatan ini menempatkan warga bukan sekadar objek, melainkan subjek literasi digital. Mereka diharapkan menjadi agen yang menularkan pengetahuan di lingkungan masing-masing—membangun kesadaran kolektif yang selama ini kerap terfragmentasi.
Bagi Telkom University, langkah ini merupakan bagian dari mandat pengabdian kepada masyarakat. Namun di tengah eskalasi kejahatan digital, upaya semacam ini juga menjadi penanda bahwa literasi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak di ruang publik yang kian terdigitalisasi.***










Discussion about this post