Bandung, Madania – Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (A.I.) semakin memengaruhi dunia pendidikan. Kehadiran teknologi seperti ChatGPT memicu kekhawatiran baru di sekolah, terutama soal praktik mencontek dan plagiarisme siswa.
Namun, sejumlah penelitian justru menunjukkan bahwa penggunaan A.I. belum tentu menyebabkan lonjakan besar dalam tindakan curang di sekolah. Yang meningkat justru rasa curiga dari para guru terhadap hasil pekerjaan siswa.
Perusahaan pendeteksi plagiarisme Turnitin mengungkapkan bahwa dari lebih dari 200 juta tugas yang dianalisis, sekitar 3% diketahui hampir sepenuhnya dibuat menggunakan A.I., sementara sekitar 10% menunjukkan jejak penggunaan teknologi tersebut.
Meski begitu, angka itu dinilai belum cukup untuk disebut sebagai “epidemi kecurangan”.
Guru Semakin Curiga terhadap Siswa
Sebuah studi dari Center for Democracy and Technology menemukan sebagian besar guru merasa generative A.I. membuat mereka lebih sulit percaya bahwa tugas siswa benar-benar hasil kerja sendiri.
Masalahnya, alat pendeteksi A.I. juga dianggap belum sepenuhnya akurat. Beberapa penelitian bahkan menemukan bahwa tulisan penutur nonbahasa Inggris lebih sering ditandai sebagai hasil A.I.
Akibatnya, muncul perdebatan baru di dunia pendidikan tentang bagaimana seharusnya sekolah menangani dugaan kecurangan siswa.
Universitas Kansas, misalnya, mengingatkan para pengajar agar tidak langsung mengambil keputusan hanya berdasarkan hasil deteksi perangkat lunak. Guru dianjurkan membandingkan tugas sebelumnya, berbicara langsung dengan siswa, dan memberi kesempatan klarifikasi.
Mencontek Sudah Ada Sebelum A.I.
Penulis menilai praktik mencontek sebenarnya sudah lama terjadi bahkan sebelum teknologi A.I. hadir.
Sebelumnya, kalkulator sempat dianggap mempermudah siswa curang dalam pelajaran matematika. Kemudian telepon genggam juga dituduh membuat siswa saling berbagi jawaban ujian. Wikipedia pun pernah dianggap merusak kemampuan riset siswa.
Namun pada akhirnya, teknologi-teknologi tersebut justru menjadi bagian normal dalam proses belajar.
Menurut penulis, A.I. kemungkinan hanya menjadi alat baru yang digunakan sebagian siswa, bukan penyebab utama kecurangan.
Batas Antara Membantu dan Curang
Perdebatan besar muncul ketika sekolah mencoba menentukan batas antara bantuan teknologi dan tindakan curang.
Dalam pelajaran matematika, penggunaan kalkulator untuk menghitung dianggap wajar karena fokus utama pembelajaran bukan pada perkalian dasar. Namun ketika A.I. menulis seluruh esai siswa, banyak orang menganggapnya berbeda.
Penulis menilai perbedaan pandangan ini menunjukkan bahwa konsep “mencontek” sebenarnya cukup subjektif dan sering kali bergantung pada proses kerja, bukan hanya hasil akhir.
Sekolah Dinilai Terlalu Fokus pada Hasil
Artikel ini juga menyoroti perubahan tujuan pendidikan modern. Dahulu sekolah banyak menekankan hafalan dan proses belajar disiplin. Kini fokus pendidikan lebih banyak diarahkan pada pembentukan karakter, nilai, dan cara berpikir siswa.
Menurut penulis, masalah utama dari mencontek bukan sekadar siswa mendapat jawaban instan, melainkan hilangnya proses belajar itu sendiri—mulai dari membaca, menulis, berpikir, hingga menyusun argumen.
Teknologi seperti mesin pencari, Wikipedia, hingga ChatGPT memunculkan pertanyaan baru: jika semua informasi bisa dicari dengan cepat, apa sebenarnya tujuan utama sekolah?
A.I. Bukan Ancaman Utama Pendidikan
Penulis berpendapat A.I. tidak secara revolusioner membuat siswa lebih curang. Tekanan akademik, persaingan masuk universitas, dan tuntutan nilai tinggi justru dianggap lebih berpengaruh terhadap praktik kecurangan.
Karena itu, solusi yang ditawarkan bukan hanya memperketat pengawasan teknologi, tetapi juga mengembalikan fokus pendidikan pada proses belajar dan kebiasaan kerja siswa.
Salah satu contohnya adalah memperbanyak tugas menulis langsung di kelas menggunakan kertas dan pena agar siswa benar-benar terlibat dalam proses berpikir.
Pada akhirnya, penulis menekankan bahwa inti pembelajaran bukan hanya pada informasi yang dihafal, melainkan pengalaman menjalani proses belajar itu sendiri.










Discussion about this post