Bandung, Madania – Mengapa Amerika Serikat mengeluarkan biaya terbesar untuk layanan kesehatan, tetapi justru memiliki angka harapan hidup yang relatif lebih rendah dibandingkan negara maju lainnya? Dengan pengeluaran sekitar 9.400 dolar per orang, harapan hidupnya hanya sekitar 79 tahun dan berada di peringkat ke-31. Mungkin selama ini cara pandang kita terhadap kesehatan memang kurang tepat.
Gaya hidup sehat dan umur panjang
Peneliti dari Harvard T.H. Chan School of Public Health melakukan studi besar untuk melihat bagaimana kebiasaan hidup memengaruhi harapan hidup. Mereka menggunakan data dari dua penelitian jangka panjang terkenal, yaitu Nurses’ Health Study (NHS) dan Health Professionals Follow-up Study (HPFS).
Penelitian ini melibatkan lebih dari 120.000 peserta dan berlangsung selama puluhan tahun sekitar 34 tahun untuk perempuan dan 28 tahun untuk laki-laki. Data yang dianalisis mencakup pola makan, aktivitas fisik, berat badan, kebiasaan merokok, serta konsumsi alkohol, yang dikumpulkan melalui kuesioner rutin yang telah teruji keakuratannya.
Apa yang dimaksud dengan gaya hidup sehat?
Para peneliti menyoroti lima kebiasaan utama yang terbukti berpengaruh besar terhadap risiko kematian dini:
- Pola makan sehat, yaitu konsumsi tinggi sayur, buah, kacang-kacangan, biji-bijian utuh, lemak sehat, serta asam lemak omega-3, dan rendah daging olahan, minuman manis, lemak trans, serta garam berlebih.
- Aktivitas fisik cukup, minimal 30 menit per hari dengan intensitas sedang hingga berat.
- Berat badan ideal, dengan indeks massa tubuh (BMI) antara 18,5 hingga 24,9.
- Tidak merokok, karena tidak ada batas aman untuk kebiasaan ini.
- Konsumsi alkohol dalam batas wajar, sekitar 5–15 gram per hari untuk perempuan dan 5–30 gram untuk laki-laki.
Apakah kebiasaan sehat benar-benar berpengaruh?
Hasilnya sangat signifikan. Individu yang menerapkan kelima kebiasaan tersebut memiliki umur yang jauh lebih panjang dibandingkan mereka yang tidak menerapkannya sama sekali selisihnya bisa mencapai 14 tahun pada perempuan dan 12 tahun pada laki-laki (jika dimulai sejak usia 50 tahun).
Sebaliknya, mereka yang tidak memiliki kebiasaan sehat memiliki risiko jauh lebih tinggi meninggal lebih awal akibat kanker atau penyakit jantung.
Menariknya, bahkan satu kebiasaan sehat saja sudah memberikan dampak. Memiliki satu dari lima kebiasaan tersebut dapat menambah harapan hidup sekitar dua tahun, baik pada laki-laki maupun perempuan. Semakin banyak kebiasaan sehat yang dijalani, semakin panjang pula usia seseorang.
Temuan ini juga didukung oleh berbagai penelitian lain. Studi tahun 2017 menunjukkan bahwa individu berusia di atas 50 tahun yang memiliki berat badan normal, tidak merokok, dan mengonsumsi alkohol secara moderat dapat hidup rata-rata tujuh tahun lebih lama. Selain itu, analisis besar pada 2012 terhadap lebih dari 500.000 orang menemukan bahwa lebih dari setengah kematian dini berkaitan dengan gaya hidup tidak sehat.
Lalu, di mana letak masalahnya?
Para peneliti menilai bahwa di Amerika Serikat, perhatian dan dana lebih banyak difokuskan pada pengembangan obat-obatan canggih dan pengobatan penyakit, bukan pada upaya pencegahan.
Padahal, pendekatan yang lebih efektif adalah mendorong perubahan gaya hidup secara luas melalui kebijakan publik dan program kesehatan masyarakat seperti yang pernah berhasil dilakukan pada aturan penggunaan sabuk pengaman atau pembatasan rokok.
Memang sudah ada kemajuan, misalnya dalam pengendalian tembakau dan pelarangan lemak trans. Namun, upaya yang lebih luas seringkali menghadapi penolakan dari industri besar.
Perusahaan makanan cepat saji, minuman manis, dan produk olahan tentu tidak diuntungkan jika masyarakat mulai hidup lebih sehat. Ketika kebijakan kesehatan publik mengancam keuntungan mereka, resistensi pun tak terhindarkan.***










Discussion about this post