Padang, Madania — Efisiensi energi menjadi kunci utama dalam menjaga keberlanjutan transportasi publik di tengah tekanan biaya dan keterbatasan sumber daya. PT Kereta Api Indonesia (Persero) Divisi Regional II Sumatera Barat mencatat penggunaan 225.480 liter BBM subsidi untuk melayani 512.741 pelanggan sepanjang triwulan I 2026.
Angka tersebut tidak sekadar statistik operasional, melainkan cerminan strategi efisiensi yang berdampak langsung pada tarif, layanan, hingga emisi karbon. Berikut lima fakta penting di balik optimalisasi BBM KAI Divre II Sumbar:
1. Efisiensi BBM Tekan Biaya, Tarif Tetap Terjangkau
KAI memastikan efisiensi energi berbanding lurus dengan keterjangkauan tarif. Dengan konsumsi BBM yang terkendali, biaya operasional dapat ditekan tanpa mengorbankan kualitas layanan.
“Efisiensi energi yang kami lakukan berimplikasi pada biaya operasional yang lebih terkendali, sehingga tarif yang dikenakan kepada pelanggan tetap terjangkau. Di tengah keterbatasan BBM, kereta api hadir sebagai solusi mobilitas yang hemat, aman, dan dapat diandalkan,” ujar Kepala Humas KAI Divre II Sumbar, Reza Shahab.
2. Layani Lebih dari 500 Ribu Penumpang dalam 3 Bulan
Dengan konsumsi 225 ribu liter BBM subsidi, KAI Divre II Sumbar mampu melayani lebih dari setengah juta pelanggan. Ini menunjukkan rasio efisiensi energi terhadap jumlah penumpang yang relatif tinggi, terutama untuk rute jarak menengah seperti Padang–Naras hingga Padang–Kayutanam.
3. BBM Digunakan Multifungsi: Dari Lokomotif hingga Listrik Kereta
Satu sumber energi tidak hanya menggerakkan lokomotif, tetapi juga menyuplai kebutuhan listrik di dalam kereta. Mulai dari penerangan, pendingin udara, hingga fasilitas pengisian daya penumpang—semuanya bergantung pada BBM yang sama.
4. Beralih ke Biosolar B40, Tekan Emisi Karbon
Seluruh armada diesel di wilayah ini kini menggunakan Biosolar B40, campuran 60 persen solar dan 40 persen biodiesel. Kebijakan ini menjadi langkah konkret dalam mendukung agenda dekarbonisasi sektor transportasi.
“Penggunaan Biosolar B40 tidak hanya mendukung efisiensi operasional, tetapi juga berkontribusi dalam menekan emisi karbon. Hal ini sejalan dengan komitmen KAI dalam mendukung target Net Zero Emission 2060,” kata Reza.
5. Didukung Subsidi PSO, Jaga Aksesibilitas Publik
Efisiensi BBM juga tidak lepas dari skema subsidi Public Service Obligation (PSO) yang memastikan tarif tetap terjangkau. Optimalisasi ini menjadi bentuk akuntabilitas KAI dalam mengelola dana publik secara tepat sasaran dan transparan.
Di luar BBM subsidi, KAI Divre II Sumbar juga menggunakan 65.900 liter BBM nonsubsidi untuk kebutuhan perawatan sarana dan prasarana. Alokasi ini penting untuk menjaga keselamatan perjalanan, termasuk operasional alat kerja dan mesin perawatan jalur rel.
Secara keseluruhan, strategi efisiensi energi yang diterapkan KAI Divre II Sumbar menunjukkan bahwa transportasi publik tidak hanya soal mobilitas, tetapi juga soal pengelolaan sumber daya yang cermat. Dalam konteks ekonomi, langkah ini menjadi contoh bagaimana efisiensi dapat berjalan seiring dengan keberlanjutan.
“Setiap penggunaan BBM subsidi harus tepat sasaran dan memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat. KAI akan terus menjadi tulang punggung transportasi publik yang tidak hanya efisien dan andal, tetapi juga berkelanjutan,” ujar Reza.***










Discussion about this post