Bandung, Madania – Pengalaman siswa di sekolah tidak selalu hitam-putih. Bagi sebagian, sekolah adalah tempat bertemu teman dan membangun kenangan. Namun bagi yang lain, ada juga tekanan, kebosanan, hingga tantangan belajar yang membuat pengalaman tersebut terasa kurang menyenangkan.
Pendidik sekaligus penulis, Larry Ferlazzo, merangkum berbagai suara siswa selama lebih dari satu dekade untuk memahami bagaimana mereka באמת memandang sekolah. Hasilnya menunjukkan satu hal utama: pengalaman belajar sangat dipengaruhi oleh hubungan, relevansi, dan suasana di kelas.
Apa yang Disukai Siswa?
Banyak siswa menyebut interaksi sosial sebagai alasan utama mereka menyukai sekolah. Bertemu teman, berinteraksi dengan guru, serta kembali ke aktivitas seperti olahraga menjadi hal yang paling dirindukan—terutama setelah masa pembelajaran jarak jauh.
Selain itu, siswa juga menghargai guru yang mau mendengarkan, menciptakan suasana kelas yang menyenangkan, serta memberikan ruang untuk berekspresi. Pengalaman belajar yang kreatif dan relevan dengan kehidupan nyata dinilai lebih membekas dibanding sekadar materi akademik.
Apa yang Tidak Disukai?
Di sisi lain, siswa juga mengungkap berbagai hal yang kurang mereka sukai. Bangun terlalu pagi, tekanan akademik, hingga metode belajar yang monoton menjadi keluhan umum.
Pembelajaran daring selama pandemi juga memunculkan pengalaman beragam. Sebagian siswa merasa fleksibilitas belajar online membantu, namun banyak juga yang mengaku stres, kelelahan, dan kehilangan interaksi sosial.
Suara Siswa yang Sering Terabaikan
Salah satu temuan penting adalah bahwa siswa sebenarnya memiliki pandangan yang jelas tentang bagaimana pendidikan seharusnya berjalan. Mereka menginginkan hubungan yang suportif dengan guru, materi yang relevan, serta lingkungan belajar yang lebih manusiawi.
Namun, suara ini sering kali kurang mendapat perhatian dalam pengambilan kebijakan pendidikan.
Menuju Pendidikan yang Lebih Relevan
Rangkuman ini menegaskan bahwa kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kurikulum atau nilai ujian, tetapi juga oleh pengalaman emosional dan sosial siswa di sekolah.
Mendengarkan siswa bukan sekadar pelengkap, melainkan kunci untuk menciptakan sistem pendidikan yang lebih efektif dan bermakna. Sekolah yang baik, pada akhirnya, adalah yang mampu membuat siswa merasa didengar, dihargai, dan terhubung dengan proses belajar itu sendiri.










Discussion about this post