Kota Bandung Hasilkan 1.500 Ton Sampah Setiap Hari

36
TPA Leuwigajah. (Humas Kota Bandung)

Madania.co.id, Bandung – Sebagai kota metropolitan, Kota Bandung idealnya memiliki tempat pembuangan sampah akhir sendiri. Namun, karena lahan terbatas hal itu sulit terwujud. Diketahui, penduduk kota Bandung menghasilkan sampah rata rata 1.500 ton per hari.

Kontribusi terbesar berasal dari sampah makanan dan daun sebesar 44,5 persen dan sampah plastik sekitar 16,7 persen dari botol, gelas, bungkus, wadah, dan kantong. Persentase sampah plastik salah satu penyumbang sampah terbanyak.

Oleh karenanya, Pemerintah Kota (Pemkot ) Bandung terus mempertajam pengelolaan sampah dari sumbernya melalui program Kang Pisman (Kurangi, Pisahkan, Manfaatkan Sampah).

“Sebagai implementasi pengelola sampah, maka lahirlah Kang Pisman. Hasilnya sejauh ini positif. Dari Kang Pisman muncul balad, duta sampai saat ini ada satgas juga,” kata Wakil Wali Kota Bandung, Yana Mulyana di Kota Bandung, Jumat (26/2/2021).

Baca Juga:  Pindad Jual Maung Versi Sipil Seharga Rp600 Juta

Menurutnya, Kang Pisman telah meningkatkan jumlah Kawasan Bebas Sampah (KBS). Tak kurang dari 143 kawasan bebas sampah. Pemkot Bandung juga mengaktifkan 467 bank sampah. Semua dilakukan bersama para penggiat sampah di lingkungan terkecil.

“Melalui Kang Pisman, Pasar Kosambi dan Pasar Cihapit menjadi pasar bebas sampah plastik,” tuturnya.

Pemkot Bandung juga telah luncurkan program menabung sampah menjadi emas. Sebanyak 120 keping emas yang masing-masing seberat 0,025 gram sudah dimiliki warga.

“Di era pandemi Covid-19, menabung sampah jadi emas merupakan terobosan. Hal ini menjadi solusi bagi warga untuk keluar dari himpitan ekonomi akibat pandemi. Tantangannya mengubah pola pikir warga menjadi sampah hal yang berguna bernilai ekonomis. Oleh karena itu harus dipilih dan dipilah di level rumah tangga,” tambahnya.

Baca Juga:  Selebgram Muslim Dearborn Menyajikan Berbagai Makanan Halal

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Bandung, Kamalia Purbani menyampaikan, evaluasi implementasi peraturan wali kota (Perwal) pengurangan kantong plastik, perlu pengawasan yang lebih.

“Literasi lingkungan masyarakat masih perlu ditingkatkan. Perlu ada edukasi dan sosialisasi yang intensif kepada masyarakat,” kata Kamalia.

Sementara itu, Direktur Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Pesisir dan Laut Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia, Dida Migfar Ridha menilai, sampah menjadi bahan baku yang bernilai ekonomis.

“Kita jadikan pandemi ini sebagai peluang. Maka harus dimanfaatkan sampah ini menjadi nilai yang berharga,”katanya.

Sedangkan Direktur Eksekutif Center for Southeast Asian Studies (CSEAS), Arisman mengaku telah melakukan penelitian mulai dari kebijakan, rumah tangga sampai industri.

Baca Juga:  Polisi Kanada Selidiki Aksi Vandalisme di Tempat Salat Bandara Pearson

Setelah melakukan observasi, ia menilai, manfaat kebijakan pelarangan kantong plastik sampai pelarangan kemasan plastik dapat menghemat biaya.

“Kebijakan pengurangan penggunaan produk plastik sekali pakai merupakan kebijakan yang paling prioritas. Dibandingkan dengan kebijakan pelarangan penggunaan produk plastik sekali pakai,” ujarnya.

Ia menyarankan, mengenai percepatan kebijakan pengurangan kantong plastik tidak ramah lingkungan sebesar 100% sebelum tahun 2024.

Rekomendasi yang diberikan, ialah pengurangan Kantong Plastik Tidak Ramah Lingkungan (KPTRL) dapat dikurangi sampai 100% pada tahun 2022. “Kebijakan pengurangan kantong plastik tidak ramah lingkungan harus disertai dengan pengawasan dan sanksi yang lebih tegas bagi pelanggarnya,” tutur Arisman.

“Pentingnya pemerintah menyosialisasi dan mengedukasi masyarakat terkait bahaya dari timbulan sampah plastik. Sehingga masyarakat turut memiliki kepedulian dalam mengurangi penggunaan bahan plastik,” pungkasnya. (sr)


Ikuti Media Sosial dan Youtube Channel Kami:
Instagram:www.instagram.com/madaniacoid/
Twitter: twitter.com/madaniacoid/
Facebook: facebook.com/madaniacoid
Youtube: youtube.com/madaniacoid
Jangan lupa like, comment, share, dan subscribe

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here